h1

Bahasa Tidak Arbitrer

“Ternyata Bahasa Tidak Arbitrer”
Moh Badrih

Arbitrer merupakan gambaran kemerdekaan dan kebebasan para pelaku bahasa baik yang mempunyai akal sehat atau pun tidak, untuk mewujudkan atau mengekspresikan dimensi kemanusiaannya ke dalam bahasa. Dengan kata lain sosok pelaku bahasa (manusia) mencoba ke luar dari bentuk ketiadaannya menuju adanya yang sempurna taqwiem yang disertai akal dan wewenang kholifah untuk menandai semua yang ada dengan bahasa.

Akal dan wewenang yang telah diberikan kepada manusia inilah telah menjadikan manusia sebagai sosok yang berbeda dan lebih dari makhluk tuhan yang lain. Sehingga dalam fase sejarah penciptaan makhluk hidup, manusialah yang terpilih sebagai ciptaan yang mendapatkan kedudukan terhormat di depan makhluk tuhan yang lain.

Sebagai makluk terpilih yang dianugrahi wewenang dari akal, ternyata tidak membuat manusia sebagai pribadi penatap langit yang tidak peduli akan sesuatu hal atau yang lain. Justru dengan adanya hal tersebut, manusia menjadi pribadi yang sistemis yang keberadaannya membutuhkan sebuah pengakuan dari makhluk yang lain.

Pengakuan dari keberadaannya, pengakuan dari segi ideologinya, pengakuan dari segi statusnya, dll. Merupakan sebuah rangkaian deklarasi dari wujud ketiadaannya menuju adanya, dari ketidaktahuaannya menuju tahunya atau yang lain. Begitulah manusia pertama, dengan segala kemampuan dan kehormatannya yang membutuhkan pengakuan dari makhluk tuhan lainnya.

Dengan wujudnya sebagai bentuk dari keberadaanya dan pengatahuannya sebagai pelengkap dari taqwiem­-nya maka lambat laun menusia mulai mengenal alam dan lingkungannya melalui bahasa. Dalam hal ini, alam menampakkan dirinya kepada manusia melalui bahasa dan tidak hanya itu, tuhan pun memperkenalkan diri melalui bahasa (wahyu).

Ketika alam mulai menampakkan dirinya, maka manusia mencoba mengakui keberadaannya dengan memberinya sebutan atau yang kelak akan dikenal dengan istilah nama. ‘Nama’ yang merupakan cermin dari alam, di dalamnya telah merekam bentuk lahir, ciri, karakter, dan sifat dari sebuah benda sebagai bentuk terkecil dari alam.

Benda yang telah berwujud dan telah melekat pada diri manusia selanjutnya diberi sebutan yang berupa ‘nama’. Wujud ‘benda’ yang akan dijadikan sebuah ‘acuan’ dan nama yang masih berupa simbol, secara tidak langsung akan menjadi asal usul bunyi dan makna. Kedua hal tersebut merupakan satu kesatuan yang dulunya telah terkonsep di dunia pengatahuan (akal) manusia pada paparan yang masih abstrak. Keduanya, (‘nama’ atau pun ‘benda’) terpisah pada saat memasuki alam realita.

Keberadaaanya yang tidak datang secara simultan telah membuat manusia mengambil langkah-langkah tertentu untuk menyatukannya. Proses penggabungan inilah yang telah menguras banyak tenaga terutama para pemikir bahasa sampai ratusan tahun, akan tetapi tan kunjung ditemukan ujungn pangkalnya.

Misalnya, istilah ‘meja’ dan ‘kursi’, pada awalnya hanya berupa simbol dan gambaran bentuk yang ada di dalam dunia abstrak yang kemudian diwujudkan ke dalam realita. Baik simbol atau pun gambaran bentuk tersebut, berusaha disatukan oleh akal budi yang secara genetis sudah merupakan bawaaan yang mengandung seperangkat prinsip-prinsip tentang bahasa yang dapat diterapkan untuk menyebut bahasa sasaran.

Pada tahap ini akal berusaha menghubungkan antara tanda dengan gambaran yang telah ada di dunia abstrak (citra) dengan berusaha melihat sesuatu yang hadir lebih awal di dalam realita. Kehadiran realita mempunyai hubungan erat dengan citra (makna) dan tanda sebagaimana dijelaskan oleh Baudrillard (dalam Piliang, 2003:46) bahwa sebagai kesatuan bentuk yang bersifat simultan keberadaan citra merupakan sebuah refleksi dari realitas, yang di dalamnya sebuah tanda mempresentasikan realitas.

Dengan kata lain, ‘realita’ atau yang kelak akan dikenal dengan ‘acuan’ ini diurai oleh akal dari sudut pandang indrawi1 dan universalia2 dengan memakai tanda sehingga dari hasil pengabungan inilah akan ditemukan suatu pengertian yang disebut makna.
Misalnya: n1 + n2 = n
2n = n
2n – n = n
n1 merupakan bentuk benda konkrit yang sudah ada, sedangkan n2 adalah tempat benda itu berada, keberadaan n1 atau n2 dalam hal ini sama dengan benda yang ada atau yang telah tampak oleh penglihatan (n). Sebagai unsur kesatuan dari n1 dan n2 (n) bisa disimpulkan sebagai keberadaan eksternal bahasa.

Keberadaan eksternal bahasa atau n1 dan n2 inilah akan dipersepsikan oleh akal budi menjadi 2n. Karena 2n sebagai proses di dalam akal budi manusia, dengan sendirinya n2 telah menjadi pemahaman yang berbentuk makna suatu benda yang tidak bisa terlepas dari n1 dan n2 atau “wujud” dan “tempat”.

Pada tahap selanjutnya, makna tersebut akan di crosscheck kembali dengan menghadirkan “n” (2n – n) sehingga untuk memenuhi standar yang kebenarannya bisa tersampaikan proses tersebut “membutuhkan” dan melahirkan simbol bahasa (n) yang berupa kata.

Pertanyaanya yang sangat mendasar dalam hal ini, kalau (n) dikatagorikan sebagai benda yang masih belum mempunyai nama dan (n1) merupakan bentuk benda, serta (n2) keberadaan atau tempat (n1), apakah masih disimpulkan tidak ada hubungan logis antara (n) dengan (n-akhir). Itulah pertanyaan yang belum tuntas dijawab dalam kurun waktu beribu-ribu tahun.

Para ahli bahasa Romawi telah mengembangkan tugas tata bahasa ilmiah atau “spekulatif” yang mencoba menemukan asas-asas yang telah menjadi hubungan antara kata, sebagai “tanda” , dengan pikiran manusia di satu pihak dan dengan benda yang digambarkannya atau “yang ditandai”-nya di pi pihak lain. Menurut para ahli bahasa spekulatif (Lyons; 1968:15), kata tidak secara langsung menggambarkan sifat benda yang ditandainya, tetapi menggambarkannya sebagai berada dengan cara tertentu atau “modus” –sebagai subtansi dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: