h1

Aktivitas Siswa

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII MTs AL HIDAYAH DONOWARIH DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF JIGSAW

YUNAINI NURUL HIKMAH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Negara berkembang selalu berusaha untuk mengejar ketinggalannya, yaitu dengan giat melakukan pembangunan di segala bidang kehidupan. Dalam bidang pendidikan pemerintah selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan berbagai cara seperti mengganti kurikulum, meningkatkan kualitas guru melalui penataran-penataran atau melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, memberi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan sebagainya. Sesuai dengan UU no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 3 menyatakan bahwa;
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggug jawab”.
Dengan memperhatikan isi dari UU No. 20 tahun 2003 tersebut, peneliti berpendapat bahwa tugas seorang peneliti memang berat, sebab kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh keberhasilan pendidikan dari bangsa itu sendiri. Jika seorang guru atau pendidik tidak berhasil mengembangkan potensi peserta didik maka negara itu tidak akan maju, sebaliknya jika guru atau pendidik berhasil mengembangkan potensi peserta didik, maka terciptalah manusia yang cerdas, terampil, dan berkualitas. Sesuai dengan Depdiknas (2005:33) yang menyatakan bahwa, “Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, suku bangsa untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945”.
Untuk mencapai tujuan ini peranan guru sangat menentukan. Menurut Wina Sanjaya (2006:19), peran guru adalah: “Sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, dan evaluator”. Sebagai motivator guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik.
Salah satu cara untuk membangkitkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan mengganti cara / model pembelajaran yang selama ini tidak diminati lagi oleh siswa, seperti pembelajaran yang dilakukan dengan ceramah dan tanya-jawab, model pembelajaran ini membuat siswa jenuh dan tidak kreatif. Suasana belajar mengajar yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Situasi belajar yang diharapkan di sini adalah siswa yang lebih banyak berperan (kreatif).
Pada MTs Al Hidayah Kelas VII Donowarih Karangploso Kabupaten Malang dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru sering menggunakan model pembelajaran ceramah. Model pembelajaran ini tidak dapat membangkitkan aktivitas siswa dalam belajar. Hal ini tampak dari perilaku siswa yang cenderung hanya mendengar dan mencatat pelajaran yang diberikan guru. Siswa tidak mau bertanya apalagi mengemukakan pendapat tentang materi yang diberikan.
Melihat kondisi ini, peneliti berusaha untuk mencarikan model pembelajaran lain yaitu model pembelajaran diskusi. Siswa dibagi atas beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang (melihat kondisi siswa di kelas). Dari diskusi yang telah dilaksanakan, ternyata siswa masih kurang mampu dalam mengemukakan pendapat, sebab kemampuan dasar siswa rendah. Dalam bekerja kelompok, hanya satu atau dua orang saja yang aktif, sedangkan yang lainnya membicarakan hal lain yang tidak berhubungan dengan tugas kelompok. Dalam melaksanakan diskusi kelompok, peneliti juga melihat di antara anggota kelompok ada yang suka mengganggu teman karena mereka beranggapan bahwa dalam belajar kelompok (diskusi) tidak perlu semuanya bekerja. Karena tidak semua anggota kelompok yang aktif, maka tanggung jawab dalam kelompok menjadi kurang, bahkan dalam kerja kelompok (diskusi), peneliti juga menemukan ada di antara anggota kelompok yang egois sehingga tidak mau menerima pendapat teman.
Melihat kenyataan-kenyataan yang peneliti temui pada sikap siswa di dalam proses pembelajaran tersebut di atas, peneliti berpendapat bahwa aktivitas siswa di MTs Al Hidayah Kelas VII Donowarih Karangploso Kabupaten Malang dalam pembelajaran bahasa Indonesia sangat kurang. Dalam hal ini peneliti berani mengungkapkan karena memang aktivitas siswa MTs Al Hidayah Kelas VII Donowarih Karangploso Kabupaten Malang masih jauh dari pengertian aktivitas yang diungkapkan dari para ahli, seperti Paul D. Dierich dalam Oemar Hamalik (2001: 173), mengemukakan bahwa jenis aktivitas dalam kegiatan lisan atau oral adalah mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.
Berdasarkan pengamatan atau observasi pendahuluan yang peneliti lakukan, ditemukan bahwa siswa MTs Al Hidayah Kelas VII Donowarih Karangploso Kabupaten Malang dalam melaksanakan diskusi kelas jarang sekali mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan, apalagi mengajukan saran. Karena aktivitas siswa yang rendah itu, hasil belajar yang diperoleh juga menjadi rendah. Hal ini dapat kita lihat dari nilai rata-rata hasil ujian semester 1 kelas VII tahun pelajaran 2007/2008, seperti yang dapat kita lihat pada tabel berikut:
Tabel: 1.1
Daftar Rata-rata Nilai bahasa Indonesia Ujian Semester Ganjil Siswa Kelas VII MTs Al Hidayah Donowarih Karangploso Kabupaten Malang Tahun Pelajaran 2009/2010
No
Kelas
Rata-rata Nilai Bahasa Indonesia Semester Ganjil
1
VII A
71
2
VII B
66
3
VII C
69
4
VII D
67
Sumber: Data Sekunder Nilai bahasa Indonesia Kelas VII MTs Al Hidayah
Donowarih Karangploso Kabupaten Malang

Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain rendahnya perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran bahasa Indonesia. Guru sering memberikan pelajaran dalam bentuk ceramah dan tanya-jawab, sehingga siswa tidak terangsang untuk mengembangkan kemampuan berfikir kreatif.
Berdasarkan pengalaman yang peneliti hadapi di dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia yang tidak aktif maka peneliti berusaha mencarikan model pembelajaran lain, sehingga pembelajaran lebih bermakna dan lebih berkualitas. Model pembelajaran yang akan peneliti coba untuk melakukannya adalah model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw. Ketertarikan peneliti mengambil model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, karena peneliti melihat dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw semua anggota kelompok diberi tugas dan tanggungjawab, baik individu maupun kelompok. Jadi, keunggulan pada pembelajaran kooperatif Jigsaw dibanding dengan diskusi yaitu seluruh anggota dalam kelompok harus bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan, sebab tugas itu ada yang merupakan tanggung jawab individu dan ada pula tanggung jawab kelompok. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini peneliti mengambil sebuah judul yaitu: “Upaya Peningkatan Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw”.
Dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw di MTs AlHidayah Donowarih Kecamatan Karangploso, diharapkan aktivitas siswa meningkat.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Masalah Umum
Untuk meningkatkan aktivitas siswa, banyak sekali metode pembelajaran, maka apakah model pembelajaran kooperatif Jigsaw mampu meningkatan aktivitas belajar siswa dan motivasi belajar bahasa Indonesia?
1.2.2 Masalah Khusus
1.Sejauh mana manfaat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap pembelajaran bahasa Indonesia?
2.Sejauh mana aktivitas belajar siswa dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw?
3.Sejauh mana pengaruh motivasi terhadap siswa dalam mengikuti pelajaran?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menganalisis model pembelajaran kooperatif Jigsaw dalam meningkatan aktivitas belajar siswa dan motivasi belajar bahasa Indonesia
1.3.2 Tujuan Khusus
1.Untuk mendiskripsikan manfaat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap pembelajaran bahasa Indonesia?
2.Mendiskripsikan aktivitas belajar siswa dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw?
3.Mendiskripsikan pengaruh motivasi terhadap siswa dalam mengikuti pelajaran?

1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah diuraikan di atas, maka peneliti mengharapkan penilitian ini bermanfaat sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat Teoritis
Bagi Pengembang Ilmu Pendidikan, dapat digunakan sebagai acuan yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kegiatan belajar mengajar dan membuka kesempatan bagi penelitian lebih lanjut tentang pemasalahan penerapan model pembelajaran tipe STAD dalam hubungannya dengan aktivitas belajar siswa.
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
1.Memberikan suasana pembelajaran yang menggairahkan
2.Menghilangkan anggapan bahwa belajar kelompok itu cukup dikerjakan oleh satu atau dua orang saja
3.Memupuk pribadi siswa aktif dan kreatif
4.Memupuk tanggung jawab individu maupun kelompok
b. Bagi Guru
1.Mengembangkan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar
2.Melatih guru agar lebih jeli dalam memperhatikan kesulitan belajar siswa
c. Bagi Sekolah
Melahirkan siswa-siswa yang aktif dan kreatif dalam menghadapi permasalahan di lingkungannya.

1.5Definisi Operasional
1.Belajar adalah proses sedemikian sehingga tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktek, latihan atau pengalaman
2.Aktivitas adalah segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik.
3.Pembelajaran kooperatif adalah suatu macam strategi pembelajaran secara berkelompok, siswa belajar bersama dan saling membantu dalam membuat tugas dengan penekanan saling support
4.Bahasa Indonesia adalah matapelajaran yang digunakan sebagai wahana pengembangan dan melestarikan nilai luhur yang berakar pada budaya bangsa Indonesia serta sebagai alat komunikasi yang dapat mempersatukan bangsa Indonesia.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pendidikan Bahasa Indonesia
2.1.1 Latar Belakang Bahasa Indonesia
Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari manusia dan bahasa tidak dapat dipisahkan. Manusia sebagai makhluk social maupun individu selalu membutuhkan bahasa sebagai alat primer dalam berkomunkasi. Bagi manusia, bahasa juga merupakan alat dan cara berpikir, dari segi ini dapat dikatakan bahwa manusia hanya dapat berpikir dengan bantuan bahasa. Berbagai unsure kelengkapan hidup manusia, seperti ilmu pengetahuan, teknologi dan seni semua dibudidayakan dengan menggunakan bahasa.
Begitu pentingnya, dekatnya, dan alamiahnya bahasa dalam kehidupan manusia justru mengakibatkan munculnya ketidaksadaran bahwa sebenarnya pada saat itu mereka sedang berbahasa.
Bila diamati, di Indonesia dalam era globalisasi ini disamping bahasa Indonesia ada berbagai bahasa lain yang digunakan oleh masyarakat. Bahasa-bahasa tersebut adalah baik bahasa-bahasa asing maupun bahasa daerah.
Semua itu baik bahasa-bahasa asing, bahasa-bahasa daerah maupun bahasa Indonesia tidak terpisah hidup sendiri-sendiri, melainkan saling mempengaruhi. Untuk kepentingan nasional, terutama bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia bahasa kebangsaan kita yang telah diikrarkan sejak tahun 1928 perlu dibina dan diarahkan perkembangannya. Bahasa Indonesia harus menjadi kebangsaan atau bahasa nasional yang harus menjadi kebangsaan bangsa Indonesia seluruhnya tanpa kecuali. Apalagi dalam UUD 1945, Bab XV, pasa 36, dinyatakan bahwa “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”. Bila bahasa Negara dibiarkan berkembang tanpa arah, lalu dimanakah integritas kita sebagai bangsa Indonesia yang merupakan salah satu Negara yang berpenduduk besar.
Berbahagialah bangsa Indonesia sebagai suatu bangsa yang mempunyai bahasa nasional yang sama namanya dengan nama bangsanya, yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia tidak hanya dipakai sebagai bahasa pergaulan atau perhubungan tingkat nasional, tetapi juga sebagai bahasa resmi kenegaraan, baik lisan maupun tulis.

2.1.2Tujuan Pengajaran Bahasa Indonesia
Dalam pengajaran formal, disekolahlah yang pertama-tama harus menjadi fondasi. Bila fondasi sebuah bangunan kuat maka bangunan itu akan kuat pula. Analog dengan itu ialah apabila pengajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar tepat dan baik itu akan menjadi dasar yang mantap untuk perkembangannya pada kelanjutan pengajaran pada kelanjutan yang lebih tinggi. Untuk keperluan itu langkah awal yang sebaiknya diambil ialah memilih pendekatan yang tepat.
Dalam pendidikan nasional fungsi pengajaran bahasa Indonesia ialah meningkatkan kognitif kebahasaan, mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keterampilan berkomunikasi serta menumbuhkan sikap positif bagi pembangunan nasional.

2.2 Aktivitas Belajar Siswa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Sebelum peneliti meninjau lebih jauh tentang aktivitas belajar, terlebih dahulu dijelaskan tentang Aktivitas dan Belajar. Menurut Anton M. Mulyono (2001 : 26), Aktivitas artinya “kegiatan / keaktifan”. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas. Sedangkan Belajar menurut Oemar Hamalik (2001: 28), adalah “Suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan”. Aspek tingkah laku tersebut adalah: pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap. Jika seseorang telah belajar maka akan terlihat terjadinya perubahan pada salah satu atau beberapa aspek tingkah laku tersebut.
Selanjutnya Sardiman A.M. (2003 : 22) menyatakan: “Belajar sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori”. Dalam proses interaksi ini terkandung dua maksud yaitu :
1.Proses Internalisasi dari sesuatu ke dalam diri yang belajar.
2.Proses ini dilakukan secara aktif dengan segenap panca indera ikut berperan
Dari uraian tentang belajar di atas peneliti berpendapat bahwa dalam belajar terjadi dua proses yaitu 1. perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang sedang belajar, 2. interaksi dengan lingkungannya, baik berupa pribadi, fakta, dsb.
Jadi peneliti berkesimpulan bahwa aktivitas belajar adalah segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif, seperti yang dikemukakan oleh Rochman Natawijaya dalam Depdiknas, 2005 : 31, belajar aktif adalah “Suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor”.
Aktivitas belajar itu banyak sekali macamnya, sehingga para ahli mengadakan klasifikasi. Paul D. Dierich, dalam Oemar Hamalik (2001 : 172) mengklasifikasikan aktivitas belajar atas delapan kelompok, yaitu:
1.Kegiatan-kegiatan Visual
Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja dan bermain.
2.Kegiatan-kegiatan Lisan (oral)
Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.
3.Kegiatan-kegiatan Mendengarkan
Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio.
4.Kegiatan-kegiatan Menulis
Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket.
5.Kegiatan-kegiatan Menggambar
Menggambar, membuat grafik, chart, diagram, peta dan pola.
6.Kegiatan-kegiatan Metrik
Melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun.
7.Kegiatan-kegiatan Mental
Merenung, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan dan membuat keputusan.
8.Kegiatan-kegiatan Emosional
Minat, membedakan, berani, tenang dan lain-lain.

Berdasarkan pengertian aktivitas tersebut di atas, peneliti berpendapat bahwa dalam belajar sangat dituntut keaktifan siswa. Siswa yang lebih banyak melakukan kegiatan sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan. Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia tidak mungkin tercapai tanpa adanya aktifitas siswa, peneliti berusaha melatih dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw, sebab dalam model pembelajaran ini siswa dituntut untuk aktif dan bertanggung jawab baik secara individu maupun kelompok.
Hal lain yang juga sangat penting pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa adalah motivasi. Menurut Oemar Hamalik (2001: 158), “Motivasi adalah perubahan energi pada diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”. Motivasi dapat dibagi menjadi dua jenis:
1.Motivasi Intrinsik, adalah motivasi yang tercakup di dalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan murid. Motivasi ini disebut motivasi murni karena timbul dari diri siswa sendiri, misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, memperoleh informasi, mengembangkan sikap untuk berhasil, dll.
2.Motivasi Ekstrinsik, adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, misalnya ijazah, tingkatan hadiah, medali, dll. Motivasi ini tetap diperlukan di sekolah, sebab pengajaran di sekolah tidak semuanya menarik minat siswa. Oleh sebab itu motivasi perlu dibangkitkan oleh guru, sehingga siswa mau dan ingin belajar.

Dari uraian di atas peneliti berpendapat bahwa dengan adanya motivasi siswa dalam belajar, maka aktivitas siswa dalam proses pembelajaran juga akan meningkat.

Aktivitas Siswa yang Diamati
Dalam penelitian ini peneliti akan mengamati aktivitas siswa sebagai berikut:
a. Mengajukan pertanyaan
b. Menjawab pertanyaan siswa maupun guru
c. Memberi saran
d. Mengemukakan pendapat
e. Menyelesaikan tugas kelompok
f. Mempresentasikan hasil kerja kelompok

2.3 Pembelajaran Kooperatif

2.3.1Pengertian Pembelajaran Kooperatif (Kooperatif Learning)
Keberhasilan dari pembelajaran sangat ditentukan oleh pemilihan metode belajar yang ditentukan oleh guru. Sebab dengan penyajian pembelajaran secara menarik akan dapat membangkitkan motivasi belajar siswa, sebaliknya jika pembelajaran itu disajikan dengan cara yang kurang menarik, membuat motivasi siswa rendah. Untuk menciptakan pembelajaran yang menarik, upaya yang harus dilakukan guru adalah memilih model pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi pembelajaran. Dengan model pembelajaran yang tepat diharapkan akan meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar sehingga hasil belajar pun dapat ditingkatkan.
Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan pada kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai pada pengalaman belajar yang optimal baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Esensi pembelajaran kooperatif itu adalah tanggung jawab individu sekaligus tanggung jawab kelompok, sehingga dalam diri siswa terdapat sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok optimal.
Pada pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif antar anggota kelompok. Siswa saling bekerja sama untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik. Keberhasilan kelompok dalam mencapai tujuan tergantung pada kerja sama yang kompak dan serasi dalam kelompok itu.
Dengan memperhatikan pengertian dari pembelajaran kooperatif di atas, peneliti berpendapat bahwa model pembelajaran ini sangat baik untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa, sebab semua siswa dituntut untuk bekerja dan bertanggung jawab sehingga di dalam kerja kelompok tidak ada anggota kelompok yang asal namanya saja tercantum sebagai anggota kelompok, tetapi semua harus aktif.

2.3.2Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif
Sebagaimana yang telah diuraikan di atas bahwa pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil, di mana Muslim Ibrahim (2006 : 6, dalam Depdiknas 2005 : 45) menguraikan unsur-unsur pembelajaran Kooperatif sebagai berikut:
Siswa dalam kelompoknya harus beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”.
1.Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti milik mereka sendiri.
2.Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
3.Siswa harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
Siswa akan dikena evaluasi atau hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua kelompok.
4.Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
5.Siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Dengan memperhatikan unsur-unsur pembelajaran kooperatif tersebut, peneliti berpendapat bahwa dalam pembelajaran kooperatif setiap siswa yang tergabung dalam kelompok harus betul-betul dapat menjalin kekompakan. Selain itu, tanggung jawab bukan saja terdapat dalam kelompok, tetapi juga dituntut tanggung jawab individu.

2.3.3Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
Sebagai seorang guru dalam memberikan pelajaran kepada siswa tentu ia akan memilih manakah model pembelajaran yang tepat diberikan untuk materi pelajaran tertentu. Apabila seorang guru ingin menggunakan pembelajaran kooperatif, maka haruslah terlebih dahulu mengerti tentang pembelajaran kooperatif tersebut. Dalam hal ini Muslim Ibrahim (dalam Depdiknas, 2005:46) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a.Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b.Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c.Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda.
d.Penghargaan lebih berorientasi pada individu.
Dengan memperhatikan ciri-ciri tersebut, seorang guru hendaklah dapat membentuk kelompok sesuai dengan ketentuan, sehingga setiap kelompok dapat bekerja dengan optimal.

2.3.4 Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif
Pada pembelajaran kooperatif dikenal ada 4 tipe, yaitu: 1) tipe STAD, 2) tipe Jigsaw, 3) Investigasi Kelompok dan 4) tipe Struktural. Tentang hal itu dapat diuraikan sebagai berikut:
a.Tipe STAD
Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) adalah pembelajaran kooperatif di mana siswa belajar dengan menggunakan kelompok kecil yang anggotanya heterogen dan menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran untuk menuntaskan materi pembelajaran, kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pembelajaran melalui tutorial, kuis satu sama lain dan atau melakukan diskusi.

b.Tipe Jigsaw
Tipe Jigsaw adalah salah satu model pembelajaran kooperatif di mana pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Pada pembelajaran tipe Jigsaw ini setiap siswa menjadi anggota dari 2 kelompok, yaitu anggota kelompok asal dan anggota kelompok ahli. Anggota kelompok asal terdiri dari 3-5 siswa yang setiap anggotanya diberi nomor kepala 1-5. Nomor kepala yang sama pada kelompok asal berkumpul pada suatu kelompok yang disebut kelompok ahli.

c.Investigasi Kelompok
Investigasi kelompok merupakan pembelajaran kooperatif yang paling komplek dan paling sulit untuk diterapkan, di mana siswa terlibat dalam perencanaan pemilihan topik yang dipelajari dan melakukan pentelidikan yang mendalam atas topik yang dipilihnya, selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas.

d.Tipe Struktural
Ada 2 macam pembelajaran koooperatif tipe struktural ini yang terkenal, yaitu:
Think-pair-share, yaitu pembelajaran kooperatif dengan menggunakan tahap-tahap pembelajaran sebagai berikut:
a.Tahap Pertama: Thinking (berfikir), dengan mengajukan pertanyaan, kemudian siswa diminta untuk memikirkan jawaban secara mandiri beberapa saat.
b.Tahap Kedua: Siswa diminta secara berpasangan untuk mendiskusikan apa yang dipikirkannya pada tahap pertama.
c.Tahap Ketiga: Meminta kepada pasangan untuk berbagi kepada seluruh kelas secara bergiliran.
Numbered head together yaitu pembelajaran kooperatif dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.Langkah 1: siswa dibagi per kelompok dengan anggota 3-5 orang, dan setiap anggota diberi nomor 1-5.
b.Langkah 2: guru mengajukan pertanyaan.
c.Langkah 3: berfikir bersama menyatukan pendapat.
d.Langkah 4: nomor tertentu disuruh menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Dari keempat tipe pembelajaran kooperatif di atas, peneliti lebih tertarik melakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, di mana pada pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw setiap siswa berkewajiban mempelajari materi yang ditugaskan kepada mereka secara bersama pada kelompok ahli, kemudian setiap siswa harus menyampaikan materi yang sudah dipelajarinya dalam kelompok asal, sehingga siswa memperoleh pengalaman langsung. Tingkat aktivitas pada kooperatif Jigsaw lebih tinggi karena semua siswa berpartisipasi dan punya tanggung jawab baik individu maupun kelompok.

2.4 Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terdapat 3 karakteristik yaitu: a. kelompok kecil, b. belajar bersama, dan c. pengalaman belajar. Esensi kooperatif learning adalah tanggung jawab individu sekaligus tanggung jawab kelompok, sehingga dalam diri siswa terbentuk sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok optimal. Keadaan ini mendukung siswa dalam kelompoknya belajar bekerja sama dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh sampai suksesnya tugas-tugas dalam kelompok. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Johnson (1991:27) yang menyatakan bahwa “Pembelajaran Kooperatif Jigsaw ialah kegiatan belajar secara kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama sampai kepada pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok”.
Persiapan dalam pembelajaran kooperatif Jigsaw
1.Pembentukan Kelompok Belajar
Pada pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw siswa dibagi menjadi dua anggota kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
a.Kelompok kooperatif awal (kelompok asal).
Siswa dibagi atas beberapa kelompok yang terdiri dari 3-5 anggota. Setiap anggota diberi nomor kepala, kelompok harus heterogen terutama di kemampuan akademik.
b. Kelompok Ahli
Kelompok ahli anggotanya adalah nomor kepala yang sama pada kelompok asal.

2. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini berbeda dengan kelompok kooperatif lainnya, karena setiap siswa bekerja sama pada dua kelompok secara bergantian, dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut
a.Siswa dibagi dalam kelompok kecil yang disebut kelompok asal, beranggotakan 3-5 orang. Setiap siswa diberi nomor kepala misalnya A,B,C,D,E
b.Membagi wacana / tugas sesuai dengan materi yang diajarkan. Masing-masing siswa dalam kelompok asal mendapat wacana / tugas yang berbeda, nomor kepala yang sama mendapat tugas yang sama pada masing-masing kelompok.
c.Kumpulkan masing-masing siswa yang memiliki wacana / tugas yang sama dalam satu kelompok sehingga jumlah kelompok ahli sama dengan jumlah wacana atau tugas yang telah dipersiapkan oleh guru.
d.Dalam kelompok ahli ini tugaskan agar siswa belajar bersama untuk menjadi ahli sesuai dengan wacana / tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
e.Tugaskan bagi semua anggota kelompok ahli untuk memahami dan dapat menyampaikan informasi tentang hasil dari wacana / tugas yang telah dipahami kepada kelompok kooperatif (kelompok asal). Poin c, d, dan e dilakukan dalam waktu 30 menit.
f.Apabila tugas telah selesai dikerjakan dalam kelompok ahli masing-masing siswa kembali ke kelompok kooperatif asal.
g.Beri kesempatan secara bergiliran masing-masing siswa untuk menyampaikan hasil dari tugas di kelompok ahli. Poin f dan g dilakukan dalam waktu 20 menit.
h.Bila kelompok sudah menyelesaikan tugasnya secara keseluruhan, masing-masing kelompok menyampaikan hasilnya dan guru memberikan klarifilkasi. (10 menit).

2.5 Kerangka Konseptual
Dalam pembelajaran kooperatif Jigsaw kegiatan dilakukan dalam tiga tahapan yaitu : tahap I (kooperatif asal), tahap II (kelompok ahli), tahap III (kelompok gabungan). Untuk meningkatkan aktivitas siswa perlu ada motivasi, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik. Dalam hal ini peneliti hanya meneliti sampai aktivitas siswa, tidak meneliti sampai hasil belajar siswa.

2.6 Hipotesis Tindakan
Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pelajaran bahasa Indonesia kelas VII MTs Al Hidayah aktivitas siswa dapat meningkat.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Sesuai dengan masalah yang diteliti, maka jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu suatu kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas dalam arti luas. Suharsimi Harikunto (2006:2 ) memandang Penelitian Tindakan Kelas sebagai bentuk penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga penelitian harus menyangkut upaya guru dalam bentuk proses pembelajaran.
PTK, selain bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar, juga untuk meningkatkan kinerja guru dan dosen dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, PTK bukan hanya bertujuan untuk mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan yang dihadapi, tetapi yang lebih penting adalah memberikan pemecahan berupa tindakan untuk mengatasi masalah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa PTK adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam proses pembelajaran dan upaya meningkatkan proses serta hasil belajar.

3.2 Sumber Data Penelitian
“Sumber data adalah subjek dari mana data diperoleh” (Arikunto, 2002:107). Dalam hal ini sumber data diperoleh dari siswa kelas VII C MTs Al Hidayah Donowarih Karangploso yang berjumlah 25 siswa, terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Kelas VII C dipilih sebagai subjek penelitian karena kondisi siswa pada tersebut bermasalah sesuai dengan identifikasi masalah yang dipaparkan.

3.3 Prosedur Penelitian
Menurut prosedur Penelitian Tindakan Kelas, maka penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk siklus yang terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Kurt Lewin dalam Depdikbud (1999 : 21).

1. Rencana Tindakan
a.Menetapkan jumlah siklus yaitu dua siklus, tiap siklus dilaksanakan dua kali pertemuan tatap muka.
b.Menetapkan kelas yang dijadikan objek penelitian, yaitu kelas VII C Mts Al Hidayah Donowarih Karangploso
c.Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dilakukan penelitian.
d. Menyusun perangkat pembelajaran, meliputi:
Rencana Pembelajaran
Lembaran Kerja Siswa
Merancang alat pengumpul data
e.Menetapkan observer

2. Pelaksanaan Tindakan
Siklus 1
a. Kegiatan Pendahuluan
1) Menyampaikan pelaksanaan penelitian tindakan kelas
2)Sebagai apersepsi, siswa diingatkan kembali tentang kompetensi dasar berkaitan dengan materi yang dipelajari
3)Memberikan motivasi agar siswa tertarik untuk mengikuti pelajaran
4)Menyebutkan dan menuliskan judul pembelajaran
5)Menyebutkan dan menuliskan kompetensi dasar yang ingin dicapai

b.Kegiatan Inti
1) Tahap Kooperatif
a.Siswa dibagi dalam enam kelompok kecil yang anggotanya empat orang dan diberi nomor kepala A,B,C,D
b.Kepada setiap kelompok dibagikan tugas yang tidak sama, masing-masing nomor kepala mendapat tugas yang berbeda.
c.Tugas disajikan dalam bentuk Lembaran Kegiatan Siswa (LKS) yang dipersiapkan oleh peneliti.

2) Tahap Ahli
Siswa yang menerima wacana yang sama (yang berasal dari masing-masing kelompok kooperatif), membahas wacana / tugas dengan diskusi / bekerja sama dan mempersiapkan diri untuk menyampaikan hasil diskusinya kepada masing-masing anggota kelompok kooperatif asal.

3) Tahap Kooperatif Asal
a.Setiap anggota kembali ke kelompok kooperatif masing-masing yang telah menjadi ahli dan mengajarkan / menginformasikan hasil diskusi kelompok ahli secara bergiliran
b.Setiap kelompok menyusun laporan secara tertulis
c.Mempresentasikan hasil diskusi kelompok dengan menunjuk salah satu kelompok

c. Kegiatan Penutup
1) Memberi penekanan tentang konsep penting yang harus dikuasai siswa
2) Membantu siswa menarik kesimpulan
3) Memberikan tugas rumah berdasarkan topik pada rencana pembelajaran

3.Pengamatan Tindakan
Observasi pelaksanaan pembelajaran dengan berpedoman pada instrument yang telah disiapkan sebelumnya, yaitu mengamati aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
4.Refleksi Tindakan
Melalui kegiatan refleksi atau evaluasi ini dapat diketahui kelebihan dan kekurangan yang dilakukan penelitian tindakan kelas. Data dari hasil pengamatan tindakan dicari penjelasannya, dianalisis dan dikaji secara matang sehingga dapat diketahui hal apa yang harus diperbaiki dan dipertahankan. Kegiatan ini sebagai bahan acuan untuk melaksanakan kegiatan pada siklus berikutnya dalam penelitian.

3.4 Instrumen Penelitian
Alat yang digunakan untuk pengumpulan data adalah berupa instrumen untuk mencatat semua aktivitas siswa selama tindakan berlangsung. Ada tiga macam alat pengumpul data yang digunakan, yaitu :
a. Lembaran Observasi
Aspek-aspek yang diamati adalah:
Mengajukan pertanyaan
Menjawab pertanyaan siswa maupun guru
Memberi saran
Mengemukakan pendapat
Menyelesaikan tugas kelompok
Mempresentasikan hasil kerja kelompok

b. Catatan Lapangan
Catatan lapangan merupakan buku jurnal harian yang ditulis peneliti secara bebas, buku ini mencatat seluruh kegiatan pembelajaran serta sikap siswa dari awal sampai akhir pembelajaran.

c.Kuesioner Siswa
Kuesioner siswa merupakan dialog secara tertulis dengan siswa yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana model pembelajaran yang dibawakan disenangi atau tidak oleh siswa, ada sepuluh aspek yang ditanyakan. Pada kuesioner ini siswa diharapkan dapat menjawab jujur dan objektif dengan jalan memberi ceklis “ya” atau “tidak” pada lajur yang disediakan. Kuesioner ini diberikan kepada 25 orang siswa setelah berakhirnya siklus kedua. Aspek yang ditanyakan pada kuesioner tersebut terlampir.

3.5 Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh dianalisa secara kolaboratif dengan teman sejawat dan hasilnya dijadikan sebagai bahan penyusunan rencana tindakan berikutnya. Analisa data dilakukan setiap selesai 1 kali pertemuan tatap muka dan setiap akhir silkus. Data dianalisa secara kualitatif yaitu lembaran observasi dan catatan lapangan. Analisa kualitatif untuk catatan lapangan dan lembaran observasi dilakukan dengan jalan membandingkan keaktifan siswa pada siklus satu dengan keaktifan siswa siklus dua.
a. Lembaran Observasi Proses Belajar Mengajar
Lembaran ini dipergunakan untuk mengungkapkan aktifitas siswa dan guru selama proses belajar berlangsung. Ada 6 aspek yang diamati pada lembaran ini, yaitu:
1.Mengajukan pertanyaan
2.Menjawab pertanyaan siswa maupun guru
3.Memberi saran
4.Mengemukakan pendapat
5.Menyelesaikan tugas kelompok
6.Mempresentasikan hasil kerja kelompok
b.Menganalisis kuesioner siswa

3.6 Pengecekan Keabsahan Data
Dalam pengecekan keabsahan data memuat uraian-uraian penelitian untuk memperoleh keabsahan data. Agar diperoleh data yang tepat dan akurat perlu diteliti sumber data dan kredibilitas data dengan menggunakan cara :
1.Pengamatan secara intensif
2.Ketekunan dalam pengamatan
3.Mengutamakan data langsung “first hand”
4.Melakukan sendiri kegiatan di lapangan
5.Mencatat data dengan sangat rinci
3.7 Tahap Penelitian
3.7.1 Tahap Persiapan
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah :
3.7.1.1 Perumusan Masalah Penelitian
Dalam tahap ini yan dilakukan adalah meruuskan masalah penelitianyang akan dilakukan. Dalam perumusan masalah ini tujuan penelitian yang akan dicapai sudah ditentukan
3.7.1.2 Studi Pustaka
Dalam tahap ini yang dilakukan meliputi antara lain (a) pencarian pustaka yang relevan, (b) pengkonsultasian judul dan masalah penelitian pada dosen pembimbing, (c) pengelompokan pokok-pokok pikiran yang relevan.
3.7.1.3 Penyusunan Rencana Penelitian
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah menyusun rencana penelitian yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai Hasil penelitian ini digunakan sebagai pedoman penyusunan laporan penelitian
3.7.1.4 Penyusunan Instrumen
Instrumen disusun berdasarkan pada lembaran observasi, catatan lapangan dan kuesioner siswa.
3.7.1.5 Pemantapan Instrumen Pengumpul Data
Setelah tersusun dan selesai diujicobakan, instrumen itu harus ditetapkan sebagai penjaring data.
3.7.1.6 Pengadaan Instrumen Pengumpul Data
Instrumen pengumpul data ang telah ditetapkan digunakan sesuai dengan jumlah sampel

3.7.2Tahap Pelaksanaan
Dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah :
3.7.2.1 Tahap Pengumpulkan data
Dalam tahap ini dilakukan (1) penyebaran instrumen penelitian yang dikerjakan siswa, dan (2) pengumpulan lembar instrmen pengumpul data.
3.7.2.2 Tahap Pengolahan Data
Dalam tahap ini meliputi (1) editing, yaitu pengecekan dan pengoreksian data yang telah dikumpulkan, (2) Tabulasi, dengan membuat tabel-tabel yang berisikan data yang telah diberi kode , sesuai dengan analisa yang dibutuhkan.

3.7.3Tahap Penyelesaian
Setelah semua data yang diperlukan terkumpul dan dianalisis, maka langkah berikutnya adalah menyelesaikan. Dalam tahap penyelesaian ini meliputi kegiatan sebagai berikut : (1) penyusunan konsep laporan, (2) mengadakan perbaikan konsep laporan yang telah dikonsultasikan pada dosen pembimbing, dan (3) mengadakan naskah laporan yang telah disusun.

Lampiran 1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP) KELAS VII SM 1
KD 14.1

Sekolah
: MTs Al Hidayah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas /Semester
: VII/2
Standar Kompetensi
14. Mengungkapkan tanggapan terhadap pembacaan cerpen
Kompetensi Dasar
14.1 Menanggapi cara pembacaan cerpen
Indikator
(1)Mampu mengungkapkan alur cerita, penokohan /karkater, isi, pesan, dan suasana cerpen yang didengarkan.
(2)Mampu menanggapi lafal, intonasi, dan ekspresi pembaca cerpen.
(3)Mampu menanggapi cara pembacaan cerpen.

Alokasi Waktu
: 4 X 40 menit ( 2 pertemuan)
Tujuan pembelajaran
Siswa mampu mengungkapkan unsur penokohan, alur cerita, isi, pesan, dan
suasana cerpen yang didengarkan.
Siswa mampu mengungkapkan lafal,intonasi, dan ekspresi pembaca cerpen.
Siswa mampu menanggapi cara pembacaan cerpen
Materi Pembelajaran
a.Pengungkapan isi, pesan, dan suasana cerpen
b.Pengungkapan lafal, intonasi, dan ekspresi pembaca cerpen
c.Penanggapan pembacaan cerpen
Metode Pembelajaran
Diskusi
Tanya jawab
Inkuiri
Penugasan
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama
a)Kegiatan awal
1)Siswa mencermati cuplikan pembacaan cerpen oleh model/rekaman CD.
2)Siswa menyampaikan tanggapan terhadap pembacaan cuplikan cerpen.
3)Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

b)Kegiatan Inti
1)Siswa mendengarkan/menyaksikan pembacaan cerpen secara penuh dari model/rekaman CD.
2)Siswa berdiskusi untuk mengungkapkan, penokohan, isi, pesan, dan suasana dalam pembacaan cerpen.
3)Siswa mendiskusikan lafal, intonasi, dan ekspresi pembacaan cerpen dikaitkan dengan unsur pembangun cerpen (kekuatan penokohan, latar, alur cerita dll).
4)Siswa secara bergantian menyampaikan hasil diskusi kelompok untuk ditanggapi kelompok lain.
5)Siswa menyimpulkan pelajaran berdasarkan kesimpulan kegiatan diskusi kelas menanggapi pembacaan cerpen.

c)Kegiatan akhir
1)Siswa dan guru melakukan refleksi dengan bertanya jawab tentang kesulitan siswa dalam menanggapi pembacaan cerpen.
2)Siswa dan guru merancang kegiatan pembelajaran untuk pertemuan akan datang .

Pertemuan Kedua
a)Kegiatan awal
1)Siswa mencermati kembali cuplikan pembacaan cerpen dari model/CD.
2)Siswa berkelompok sesuai kelompoknya masing-masing.
3)Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

b)Kegiatan Inti
1)Siswa mendiskusikan cara pembacaan cerpen dikaitkan dengan pengungkapan penokohan (karakter tokoh), alur, isi, pesan dan suasana cerpen.
2)Siswa mendiskusikan cara pembacaan cerpen dikaitkan dengan kekuatan pelafalan, intonasi,dan ekspresi pembaca dalam membangun cerita.
3)Siswa menyampaikan hasil diskusi untuk ditanggapi kelompok lain.
4)Siswa merumuskan kesimpulan tanggapan cara pembacaan cerpen yang tepat berdasarkan unsur-unsur pembangunnya .

c)Kegiatan akhir
1)Guru melakukan refleksi dengan bertanya jawab mengenai hal-hal yang dihadapai siswa dalam menanggapi pembacaan cerpen.
2)Menampilkan cuplikan pembacaan cerpen dari CD untuk mengakhiri pelajaran.
Alat dan Sumber belajar
a)Model pembacaan cerpen
b)Rekaman pembacaan cerpen
c)Buku teks
d)LKS BIND MGMP VII B

6. Penilaian
a)Teknik : Tes lisan
b)Bantuk instgrumen : Daftar pertanyaan
c)Instrumen penilaian

Lampiran 1: Contoh lembar soal tes lisan

(1)Simaklah pembacaan cerpen berikut ini kemudian kerjakan soal berikut!
Bagaimana pendapatmu mengenai pengungkapan alur cerita dalam pembacaan cerpen tersebut?
(2)Bagaimana pendapatmu mengenai penokohan dalam pembacaan cerpen?
(3)Ungkapkan kembali isi, pesan, dan suasana dari cerpen yang kamu dengarkan!
(4)Bagaimanakah lafal, intonasi, dan ekspresi pembaca cerpen yang kamu saksikan? Jelaskan!
(5)Bagaimanakah pendapatmu cara pembacaan cerpen yang kamu lihat bila dikaitkan dengan, isi, pesan, dan suasana cerpen? Jelaskan satu per satu.

Kriteria penskoran tes lisan

Kegiatan
Skor
Siswa menjawab tiap butir pertanyaan dengan tepat
2
Siswa menjawab namun jawaban kurang tepat
1
Siswa tidak menyampaikan tanggapan apa-apa
0

Keterangan:
Penghitungan nilai akhir dalam skala 0—100 adalah sebagai berikut:

Perolehan skor
Nilai akhir = X skor (100) Ideal = ……………………….
Skor maksimum (10)

Format pengamatan kegiatan diskusi kelompok.

No
Nama siswa
Keaktifan

Keseriusan

Inisiatif

1

2

3

4

5

7

8

9

Dst,

Keterangan:
1. Berilah tiap kolom kegiatan dengan nilai
A = sangat baik = 8,5 – 10
B = baik = 6,5 – 8
C = cukup baik dan = 5,5 – 6
K = kurang baik = 0 – 5

Donowarih,…………………………..
Mengetahui,
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran,

SUMONO, S.Pd YUNAINI NURUL HIKMAH
NIP NIP

Lampiran 2
Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus 1

No
Aktivitas yang diamati
Pertemuan 1
Pertemuan 2

Jumlah Siswa
%
Jumlah Siswa
%
1
Mengajukan pertanyaan

2
Menjawab pertanyaan siswa maupun guru

3
Memberi saran

4
Mengemukakan pendapat

5
Menyelesaikan tugas kelompok

6
Mempresentasikan hasil kerja kelompok

Lampiran 3
Catatan lapangan pada siklus 1

No
Uraian Permasalahan
Keterangan
1
Kemampuan siswa menyelesaikan tugas tepat waktu

2
Tanggung jawab siswa dalam menyelesaikan tugas

3
Kemampuan siswa menyelesaikan konsep-konsep yang dibahas

4
Kemampuan dalam berdiskusi

5
Frekuensi bertanya maupun menjawab

Lampiran 4

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP) KELAS VII SM 1
KD 12.2

Sekolah
: MTs Al Hidayah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas /Semester
: VII/2
Standar Kompetensi
12. Mengungkapkan berbagai informasi dalam bentuk
narasi dan pesan singkat.

Kompetensi Dasar
12.1 Menulis pesan singkat sesuai dengan isi, dengan menggunakan kalimat efektif dan bahasa yang santun.

Indikator
(1)Mampu menulis pokok-pokok pesan yang ditulis.
(2)Mampu menulis pesan singkat sesuai dengan konteks.

Alokasi Waktu
: 4 X 40 menit ( 2 pertemuan)

Tujuan Pembelajaran
a.Siswa mampu menulis pokok-pokok pesan yang ditulis.
b.Siswa mampu menulis pesan singkat sesuai dengan konteks.
Materi Pembelajaran
a.Pokok-pokok isi pesan singkat
b.Penulisan pesan singkat.
Metode Pembelajaran
Diskusi
Tanya jawab
Inkuiri
Penugasan
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama
a)Kegiatan awal
1)Siswa bertanya jawab mengenai aktivitas sehari-hari yang memungkinkan membuat pesan singkat.
2)Siswa bertanya jawab mengenai hal-hal yang terdapat dalam pesan singkat.
3)Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

b)Kegiatan Inti
1)Siswa membaca contoh pesan singkat secara detail.
2)Siswa berdiskusi menemukan ciri-ciri penulisan kalimat pesan singkat.
3)Siswa menampilkan hasil diskusinya untuk dikomentari kelompok lain.
4)Siswa merumuskan sistematika kalimat pesan singkat yang benar.
5)Siswa mendiskusikan pokok-pokok pesan singkat sesuai dengan konteksnya untuk dibuat menjadi pesan singkat.

c)Kegiatan akhir
1)Siswa dan guru melakukan refleksi dengan meminta tanggapan siswa mengenai kesulitan siswa merumuskan sistematika kalimat pesan singkat dengan isi yang tepat.
2)Siswa menyimpulkan pelajaran terkait langkah-langkah menyusun pesan singkat.
3)Siswa dan guru merancang kegiatan pembelajaran untuk pertemuan akan datang .

Pertemuan Kedua
a)Kegiatan awal
1)Siswa mencermati apersepsi mengenai kegiatan menulis pesan singkat dalam kehidupan sehari-hari.
2)Siswa berkelompok sesuai kelompoknya masing-masing.
3)Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

b)Kegiatan Inti
1)Siswa menulis pokok-pokok pesan singkat yang akan dibuatnya sesuai konteks.
2)Siswa menulis pesan singkat sesuai dengan konteks dan menggunakan kalimat yang efektif dan bahasa santun.
3)Siswa menukarkan hasil tulisannya kepaa teman sebangku untuk disunting.
4)Siswa menyunting tulisan pesan singkat mengenai keefektifan kalimatnya, kesesuaian isi dengan konteks, dan kesantunan bahasanya, serta ketepan EYD.
5)Siswa memperbaiki hasil tulisannya berdasarkan hasil suntingan teman.
6)Siswa dan guru memilih tiga tulisan pesan singkat terbaik untuk diberi penghargaan.
7)Siswa dan guru menyimpulkan pelajaran mengenai kegiatan menulis pesan singkat.

c)Kegiatan akhir
1)Guru melakukan refleksi dengan bertanya jawab tentang kesulitan siswa dalam menulis pesan singkat.
2)Bertepuk tangan untuk mengakhiri keberhasilan belajar.
Alat dan Sumber belajar
a)Teks bacaan
b)Buku teks
c)LKS BIND MGMP VII B

6. Penilaian
a)Teknik : Tes tulis
b)Bantuk instgrumen : tes Uraian
c)Instrumen penilaian

Lampiran 1: Contoh lembar soal uraian

Bacalah teks wawancara berikut kemudian kerjakan soal berikut ini!
(1)Tulislah pokok-pokok pesan dari teks yang disediakan!
(2)Tulislah pesan singkata sesuai dengan pokok-pokok pesan, kalimat yang efektif dan bahasa yang santun!

Kriteria penskoran tes uraian

Kegiatan
Skor
Pokok-pokok pesan sesuai dengan teks
3
Pokok-pokok pesan kurang sesuai dengan teks
2
Siswa tidak mengerjakan apa-apa
0

Rubrik penilaian menulis pesan singkat
Nama siswa : ………………………………..
Tanggal : ………………………………..
No
Aspek
Deskriptor
Skor maks
Perolehan skor
1
Isi
Isi pesan singkat sesuai dengan konteks
5

2
Keruntutan kalimat
Kalimat pesan singkat disusun dengan bahasa yang efektif dan mudah dipahami.
5

3
kesantunan
Pesan singkat disusun dengan bahasa yang santun

3

4
EYD
Pesan singkat disusun dengan memperhatikan EYD
2

Keterangan:
Penghitungan nilai akhir dalam skala 0—100 adalah sebagai berikut:

Perolehan skor
Nilai akhir = X skor (100.000) Ideal = ……………………….
Skor maksimum (15)

Format pengamatan kegiatan diskusi kelompok.

No
Nama siswa
Keaktifan

Keseriusan

Inisiatif

1

2

3

4

5

7

8

9

10

Dst,

Keterangan:
1. Berilah tiap kolom kegiatan dengan nilai
A = sangat baik = 8,5—10
B = baik = 6,5—8
C = cukup baik = 5,5—6
K = kurang baik = 0—5

Donowarih,…………………………..
Mengetahui,
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran,

SUMONO, S.Pd YUNAINI NURUL HIKMAH
NIP NIP

Lampiran 5
Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus 2

No
Aktivitas yang diamati
Pertemuan 1
Pertemuan 2

Jumlah Siswa
%
Jumlah Siswa
%
1
Mengajukan pertanyaan

2
Menjawab pertanyaan siswa maupun guru

3
Memberi saran

4
Mengemukakan pendapat

5
Menyelesaikan tugas kelompok

6
Mempresentasikan hasil kerja kelompok

Lampiran 6
Catatan lapangan pada siklus 1

No
Uraian Permasalahan
Keterangan
1
Kemampuan siswa menyelesaikan tugas tepat waktu

2
Tanggung jawab siswa dalam menyelesaikan tugas

3
Kemampuan siswa menyelesaikan konsep-konsep yang dibahas

4
Kemampuan dalam berdiskusi

5
Frekuensi bertanya maupun menjawab

Lampiran 7
Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus 1 dan 2

No
Aktivitas yang diamati
Siklus 1
Siklus 2
Peningkatan (%)

Pertemuan 1
Pertemuan 2
Pertemuan 1
Pertemuan 2

1
Mengajukan pertanyaan

2
Menjawab pertanyaan siswa maupun guru

3
Memberi saran

4
Mengemukakan pendapat

5
Menyelesaikan tugas kelompok

6
Mempresentasikan hasil kerja kelompok

Lampiran 8
Kuesioner Siswa

No
Pertanyaan
Jawaban

Ya
%
Tidak
%
Tidak Menjawab
%
1
Apakah anda tahu tentang topik yang anda pelajari setiap belajar?

2
Apakah tujuan pembelajaran yang hendak dicapai anda pahami?

3
Apakah model pembelajaran yang dibawakan oleh guru anda senangi ?

4
Apakah cara belajar yang dibawakan oleh guru mendorong anda untuk belajar ?

5
Apakah informasi yang anda dapat bisa anda jelaskan pada teman sekelompok anda ?

6
Anda memahamami informasi pelajaran yang diberikan oleh teman ?

7
Anda termotivasi bertanya pada saat diskusi kelas ?

8
Anda termotivasi untuk menjawab soal diskusi kelas ?

9
Model pelajaran yang diterapkan melatih anda untuk bertanggung jawab ?

10
Model pembelajaran yang diterapkan meningkatkan minat dan aktivitas anda dalam belajar ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: