h1

Bahasa Eufemis dan “Pleset’


1.1.Latar Belakang
Melihat pemimpin politik berdiri di depan orang banyak, berpidato tentang hal yang sangat penting, pidato yang bisa mengubah pikiran massanya. Suaranya penuh dengan emosi, katanya dapat merangsang masyarakat dan segera mereka bersorak untuk dia. Atau berpikir mengenai banyak eufimisme yang digunakan tokoh politik supaya melukiskan tindakannya yang kurang baik, misalnya ada berita bahwa ‘Tokoh politik sering menjadi “tawanan” pebisnis korup’, di sini kata-kata ringan digunakan supaya memberi kesan yang kurang berat (Kompas, 17/9/2004). Ini menunjukkan bagaimana pentingnya bahasa berkaitan dengan politik. Seperti George Orwell sudah menulis, ‘Bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan kelihatan jujur dan pembunuhan sopan’ (Orwell, 2004). Jadi terkesan para politisi atau pejabat tidak memikirkan akibat dari penggunaan bahasanya. Apakah rakyat di bawahnya akan mengalami gejolak atau tidak, jauh dari pemikirannya. Sehingga tidak sedikit masyarakat khususnya para aktivis mengkritisinya dalam bentuk plesetan-plesetan.
Penggunaan bahasa dalam politik tidak selalu jadi jahat karena bahasa sebagai alat yang sama digunakan oleh politikus maupun aktivis. Alat ini bisa digunakan untuk memberitahu, mempengaruhi dan meyakinkan. Hal ini berkaitan dengan cara tokoh politik menyakinkan masyarakat tentang kebijakan-kebijakannya, dan juga cara-cara masyarakat menanggapi keputusan/kebijakan tersebut. Bahasa sangat penting dalam politik, sebagai aspek yang kuat sekali, juga terbuka, bisa digunakan oleh orang yang berkuasa maupun orang biasa yang melawannya. Alasan kekuatan bahasa adalah bahasa bisa mengubah pendapat orang. Bahasa bisa digunakan untuk mendalangi masyarakat, terutama dalam bidang politik. Sebab pidato atau argumen yang bagus bisa menyakinkan masyarakat tentang isu-isu penting.
Berdasarkan pengamatan peneliti, bahasa yang dipakai oleh para politisi (baca: pejabat) akhir-akhir ini, seperti pernyataan-pernyataan beberapat pejabat yang dimimintai keterangan oleh panitia khusus/pansus Bank Century. Paparan atau pernyataan yang disampaikan mereka terkesan membuat bingung bagi yang menyimaknya. Misalnya, pernyataan Menteri Keuangan RI, Ibu Sri Mulyani, kurang lebih yang beliau sampaikan adalah “Bank Century dianggap sebagai bank yang gagal dan berdampak sistemik”. Pemakaian bahasa yang demikian terutama disebabkan oleh keinginan para politisi untuk menyembunyikan pikiran atau tujuan yang sebenarnya di balik paparan bahasa yang digunakannya. Sebab, seorang politisi menggunakan bahasa bukan hanya untuk menyatakan pendapat dan pikirannya, melainkan juga untuk menyembunyikan pikirannya. Mereka harus menyembunyikan pikiran yang sebenarnya, karena di balik pikiran itu terdapat berbagai kepentingan yang harus dipertahankan, baik bersifat nasional maupun kelompok (Panggabean, 1981:vii). Pendapat tersebut sesuai dengan pendapat Faruk (Jawa Pos:2/10/1994) bahwa pilihan masyarakat terhadap satu kata mungkin sekali memang mewakili keinginan masyarakat, keinginan yang tersembunyi sekalipun. Menurut Mustansyir (1988:41), salah satu kelemahan bahasa adalah arti kata-katanya dapat dimanipulasi; karena masyarakat kadangkala tidak konsekuen dengan alat yang masyarakat ciptakan sendiri, masyarakat berusaha memanipulasi arti kata atau ungkapan bahasa tanpa memperdulikan kaidah-kaidah yang telah masyarakat tentukan sendiri. Dalam konteks keindonesiaan, kata bukanlah sesuatu yang hampa.
Mengetahui berbagai fenomena penggunaan bahasa khususnya di dunia politik seperti uraian di atas, peneliti memiliki ketertarikan untuk meneliti fenomena-fenomena penggunaan bahasa-bahasa tersebut dengan menentukan judul penelitian “Penggunaan Eufimisme & Bahasa Plesetan Dalam Dunia Politik (Studi Kasus pada Iklan Politik dalam Pilkada Kabupaten Malang tahun 2010)”.
Dari hasil observasi terhadap baliho/spanduk/sejenisnya mengenai iklan Pilkada Kabupaten Malang 2010, dihasilkan hipotesis sebagai berikut:
1.Bahasa tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tapi bahasa juga digunakan untuk mempengaruhi, mengelabuhi atau bahkan dijadikan alat untuk bersembunyi dari kenyataan.
2.Modal berpolitik tidak hanya dengan uang, jabatan atau sejenisnya, selain itu juga harus mampu menggunakan bahasa tepat guna.
3.Dalam memberikan kritik tidak harus dengan bahasa formal, tapi juga bisa dengan bahasa-bahasa ‘plesetan’.
4.Penggunaan bahasa-bahasa ‘plesetan’ maupun sejenis eufimisme tidak hanya diterapkan oleh para politisi atau pejabat saja, tapi sudah mulai mengakar ke bawah yakni rakyat.
Berdasarkan hasil hipotesis tersebut dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup penggunaan bahasa sangat luas. Penggunaan bahasa tidak hanya untuk menyampaikan pesan sebenarnya, tapi juga dapat digunakan untuk memanipulasi atau menyampaikan pesan yang tidak sebenarnya dan juga untuk meyakinkan lawan bicara atau orang yang menerima pesan lisan dengan bahasa-bahasa ‘plesetan’ atau eufimisme. Menurut Mustansyir (1988:41), “Eufimisme yaitu pemakaian suatu ungkapan yang lembut, samar atau berputar-putar untuk mengganti suatu presisi yang kasar atau suatu kebenaran yang kurang enak”. Bentuk-bentuk eufimisme dapat diamati ketika para politisi mencoba mempertahankan kepentingannya dengan usaha untuk meyakinkan masyarakat, bahwa tanpa pemerintahan yang dipimpin olehnya (atau kelompoknya), negara akan mengalami persengketaan nasional atau mengalami kekalutan politik yang tidak akan berakhir. Untuk usaha-usaha menyelubungi kepentingan tersebut dalam forum politik, haruslah dipergunakan bahasa (Panggabean, 1981:viii).
Mungkin dalam ingatan masyarakat masih melekat bahwa ketika para politisi dimintai keterangan oleh pansus Bank Century, mereka dengan bebas dapat menciptakan simbol-simbol bahasa atau melakukan eksploitasi bahasa. Penciptaan simbol-simbol bahasa ketika para politisi dimintai keterangan oleh pansus Bank Century tersebut ditujukan untuk: (1) memunculkan citra positif terhadap pejabat dengan menyembunyikan “kenyataan yang menyakitkan” dengan cara menciptakan beragam eufimisme, dan (2) mencegah gejolak sosial dengan cara menggunakan kalimat-kalimat yang dikaburkan. Sementara itu, rakyat sama sekali tidak diberi kesempatan menciptakan simbol-simbol secara terbuka. Akibatnya, rakyat hanya dapat menciptakan simbol-simbol secara tertutup yang disampaikan dalam bentuk plesetan-plesetan. Dengan mengetahui penggunaan bahasa-bahasa para politisi/pejabat tersebut dapat dikatakan telah terjadi semacam “pemerkosaan terhadap simbol-simbol bahasa”. Pejabat dapat secara bebas memobilisasi simbol-simbol, sedangkan rakyat cenderung atau terkesan tidak diberi kesempatan untuk melakukan hal yang sama. Implikasi dari terjadinya mobilisasi simbol tersebut adalah, pejabat dapat menjalankan setiap kebijakan yang telah digariskannya tanpa sedikit pun kontrol dari rakyatnya. Rakyat harus menerima setiap kebijakan tokoh politik, walaupun “dengan sangat terpaksa”. Sarana yang dipakai oleh para politisi untuk mengendalikan gejolak sosial adalah berupa penggunaan eufimisme dan kata atau kalimat yang bermakna rancu. Selain itu, di kalangan politisi juga terjadi kecenderungan untuk meniru gaya berbahasa orang yang paling berwibawa dan paling berkuasa pada masanya. Seperti di era reformasi sekarang ini, penggunaan bahasa para politisi cenderung dengan tipe-tipe eufimisme yang tidak jarang menimbulkan multitafsir. Seperti pesan-pesan yang disampaikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono (yang akrab disapa pak SBY) dalam pidato-pidatonya. Meskipun diksi-diksi/pilihan kata dan struktur kalimatnya bagus tidak jarang menimbulkan kebingungan masyarakat Indonesia. Sehingga masyarakat selaku masyarakat Indonesia seolah-olah dituntut untuk memiliki wawasan kebahasan yang dapat mengimbangi bahasa-bahasa para politisi. Bahasa-bahasa ala SBY mulai mempengaruhi politisi lain dalam menggunakan bahasa. Mengkaji dan memahami penggunaan eufimisme atau bahasa-bahasa ‘plesetan’ yang terus meluas menjadi PR (Pekerjaan Rumah) baru bagi masyarakat Indonesia.

1.2.Rumusan Masalah
Bahasa politik adalah bahasa yang khusus, dan peneliti ingin mengetahui tentang bagaimana eufimisme dan bahasa-bahasa plesetan dalam wacana politik dilihat dari sudut pandang sintaksis, semantik, dan pragmatiknya.

1.2.1.Masalah Umum
Bagaimana penggunaan eufimisme dan bahasa plesetan dalam wacana politik, khususnya iklan politik pilkada kabupaten Malang dilihat dari sudut pandang sintaksis, semantik, dan pragmatiknya?

1.2.2.Masalah Khusus
a.Bagaimana penggunaan eufimisme dan bahasa plesetan dalam wacana politik, khususnya iklan politik pilkada kabupaten Malang dilihat dari sudut pandang sintaksis?
b.Bagaimana penggunaan eufimisme dan bahasa plesetan dalam wacana politik, khususnya iklan politik pilkada kabupaten Malang dilihat dari sudut pandang semantik?
c.Bagaimana penggunaan eufimisme dan bahasa plesetan dalam wacana politik, khususnya iklan politik pilkada kabupaten Malang dilihat dari sudut pandang pragmatik?

1.3.Tujuan Penelitian
1.3.1.Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahi penggunaan eufimisme dan bahasa plesetan dalam wacana politik, khususnya iklan politik pilkada kabupaten Malang dilihat dari sudut pandang sintaksis, semantik, dan pragmatiknya.
1.3.2.Tujuan Khusus
a.Dapat mengetahui penggunaan eufimisme dan bahasa plesetan dalam wacana politik, khususnya iklan politik pilkada kabupaten Malang dilihat dari sudut pandang sintaksis.
b.Dapat mengetahui penggunaan eufimisme dan bahasa plesetan dalam wacana politik, khususnya iklan politik pilkada kabupaten Malang dilihat dari sudut pandang semantik.
c.Dapat mengetahui penggunaan eufimisme dan bahasa plesetan dalam wacana politik, khususnya iklan politik pilkada kabupaten Malang dilihat dari sudut pandang pragmatik.

1.4.Manfaat Penelitian
Beberapan manfaat yang diharapkan dengan adanya penelitian ini, antara lain:
1.4.1.Manfaat Teoritis
Dapat menambah khazanah ilmu kebahasaan khususnya Bahasa Indonesia yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Selain itu juga dapat menjadi stimulus/rangsangan untuk meningkatkan kualitas kajian ilmu Bahasa Indonesia. Agar pembelajaran Bahasa Indonesia tidak dianggap remeh. Dengan seperti itu, mempelajari Bahasa Indonesia akan banyak menarik minat.
1.4.2.Manfaat Praktis
a.Bagi peneliti
Wawasan kebahasaan peneliti menjadi luas dan menjadi spirit dan termotivasi untuk memahami ilmu-ilmu kebahasaan yang lebih tinggi.
b.Bagi pengajar (guru/dosen) Bahasa Indonesia
Para pengajar Bahasa Indonesia dapat meningkatkan kualitas materi ajarnya dengan membahas fenomena-fenomena penggunaan bahasa di masyarakat luas khususnya dalam dunia politik. Sehingga mampu mencetak generasi yang memiliki wawasan kebahasaan yang luas dan mampu berperan positif dalam dunia kebahasaan.
c.Bagi kaum intelektual (siswa/mahasiswa)
Dengan adanya penelitian ini, para kaum intelektual (siapapun yang mempelajari Bahasa Indonesia) dapat mengoreksi pemahaman kebahasaannya khususnya bahasa-bahasa yang berkaitan dengan dunia politik. Sehingga menjadi generasi bahasa yang handal dan mampu membantu masyarakat dalam memahami bahasa-bahasa politik.
d.Bagi institusi pendidikan
Menjadi lebih paham terhadap fenomena-fenomena penggunaan bahasa dalam dunia politik. Sehingga dapat meningkatkan kualitas kurikulum pembelajaran Bahasa Indonesia yang mampu menjawab tantangan zaman.
e.Bagi politisi/pejabat
Dapat dijadikan salah satu acuan berbahasa selama berkarir dalam dunia politik.
f.Bagi masyarakat
Sedikit demi sedikit, masyarakat mulai mengenal dan memahami bahasa-bahasa yang digunakan para politisi sekaligus menjadi akan efek dari bahasa-bahasa yang digunakan politisi.

1.5.Definisi Operasional
Untuk mengawali pemahaman terhadap penelitian ini, penulis perlu menguraikan definisi operasional penelitian, antara lain:
1.5.1.Eufimisme & Bahasa Plesetaan
Menurut Mustansyir (1988:41), “Eufimisme yaitu pemakaian suatu ungkapan yang lembut, samar atau berputar-putar untuk mengganti suatu presisi yang kasar atau suatu kebenaran yang kurang enak”.
Banyak sekali para pakar bahasa memberikan batasan pengertian terhadap istilah bahasa. Salah satunya adalah “Language is purely and non-instinctive of communicating ideas, emotions and desires by means of a system of voluntarily produced simbols” (Alwasilah, 1986:7). Artinya, Bahasa adalah suatu alat untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kemauan yang murni manusiawi dan tidak instingtif, dengan pertolongan sistem lambang-lambang yang diciptakan dengan sengaja. Tidak instingtif dapat dikatakan bahwa dengan adanya lambang-lambang bahasa memungkinkan manusia berpikir dan belajar dengan lebih baik.
Plestan adalah dasarnya bercanda dibuat dari mengubah singkatan-singkatan. Tetapi plesetan lebih banyak bercanda saja (Melanie Barnes, 2004:38).
1.5.2.Wacana Politik
Wacana politik adalah debat politik umum yang terjadi di mana saja di antara masyarakat. Setiap hari orang-orang di mana-mana akan berbicara tentang isu-isu yang penting (Melanie Barnes, 2004:16).

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1.Pengertian Bahasa
Definisi tentang bahasa sangatlah banyak yang dihasilkan oleh pakar-pakar bahasa. Tapi setidaknya, dapat masyarakat batasi dalam beberapa pengertian di bawah ini:
a. “Language is purely and non-instinctive of communicating ideas, emotions and desires by means of a system of voluntarily produced simbols” (Alwasilah, 1986:7). Artinya, Bahasa adalah suatu alat untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kemauan yang murni manusiawi dan tidak instingtif, dengan pertolongan sistem lambang-lambang yang diciptakan dengan sengaja. Tidak instingtif dapat dikatakan bahwa bahasa tidak muncul dengan sendirinya. Akan tetapi melalui tahap-tahap pembelajaran sehingga dapat menghasilkan sebuah bahasa yang dapat dikomunikasikan untuk menyampaikan ide, gagasan, dan pikiran kepada orang lain. Disadari atau tidak bahwa media terbaik untuk menyampaikan ide, gagasan, pikiran, dan keinginan adalah melalui bahasa, baik berupa bahasa tulis maupun lisan. Berkat bahasa, manusia dapat berpikir secara berlanjut, teratur, dan sistematis. Selain itu manusia juga dapat mengkomunikasikan apa yang sedang dipikirkan kepada orang lain. Bukan itu saja, dengan bahasa manusia dapat mengekspresikan sikap dan perasaan (Prasetyoningsih, 2001:23).
Di dalam bahasa tersimpan kebudayaan bangsa pemilik bahasa. Sebagaimana yang diungkapkan oleh pepatah bahwa bahasa menunjukkan bangsa (Prasetyoningsih, 2001:17). Misalnya, seseorang yang berbahasa Mandarin maka dia dapat disebut orang China atau Taiwan. Atau orang berbahasa melayu dapat disebut orang Indonesia, Malaysia maupun Brunei Darussalam. Bahkan bahasa juga dapat menunjukkan karakter sifat seseorang. Seperti masyarakat ketahui di Indonesia, negara masyarakat tercinta. Seseorang yang cara berbahasanya dengan nada yang nyaring, biasanya watak dan sifatnya keras. Seperti bahasanya orang Batak, Bugis, dan Madura. Sedangkan seseorang yang cara bahasanya dengan nada yang tidak nyaring dan terkesan lembut, biasanya watak dan sifatnya lembut. Seperti bahasanya orang Yogyakarta dan Solo.
b.Bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat, berupa lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Keraf, 1986:16).
Tanpa bahasa masyarakat tidak dapat mengkomunikasikan ilmu pengetahuan kepada orang lain yang mengakibatkan ilmu pengetahuan terus berkembang dari waktu ke waktu. Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak sebab objek-objek yang factual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Adanya simbol bahasa yang bersifat abstrak ini memungkinkan manusia untuk memikirkan sesuatu secara berlanjut. Bahasa menjadi sarana untuk menciptakan hubungan sosial. Berkomunikasi dengan bunyi suara sebenarnya bukan satu-satunya alat untuk berkomunikasi. Dengan bahasa isyarat, manusia dapat berkomunikasi atau menyampaikan pesan-pesan yang diinginkan. Hanya saja bunyi suara merupakan alat komunikasi yang utama dan paling unggul di antara beberapa alat komunikasi (Prasetyoningsih, 2001:23). Komunikasi yang menggunakan bunyi ujaran disebut komunikasi verbal. Sedangkan komunikasi yang tidak menggunakan bunyi ujaran dapat disebut komunikasi non verbal.
c.Bahasa merupakan lambang yang berupa serangkaian bunyi yang membentuk suatu arti tertentu (Depdikbud, 1984:50).
Rangkaian bunyi yang masyarakat kenal sebagai kata melambangkan suatu objek tertentu. Manusia mengumpulkan lambang-lambang itu dengan menyusun perbendaharaan kata-kata. Perbendaharaan ini pada hakikatnya merupakan akumulasi pengalaman dan pikiran. Artinya, dengan perbendaharaan kata-kata yang mereka miliki, maka manusia dapat mengkomunikasikan segenap pengalaman dan pemikirannya. Adanya bahasa ini memungkinkan masyarakat memikirkan sesuatu dalam benak pikiran, meskipun objek yang sedang masyarakat pikirkan tidak berada di dekat masyarakat. Manusia dengan kemampuannya berbahasa dimungkinkan untuk memikirkan sesuatu masalah secara terus-menerus.
Dengan adanya bahasa maka manusia hidup dalam dua dunia, yakni dunia pengalaman yang nyata dan dunia simbolik yang dinyatakan dengan bahasa. Dalam setiap kegiatannya manusia selalu bergantung pada pemakaian bahasa. Tidak ada kegiatan yang tanpa memakai bahasa. Bahkan pada saat diam (berpikir, merenung, mengingat-ingat, dan sebagainya) pada dasarnya juga berbahasa.

2.2.Fungsi-fungsi Bahasa
Dari berbagai macam fungsi bahasa yang diungkapkan oleh pakar-pakar bahasa. Tapi penulis selaku peneliti di sini mengkhususkan pada pendapat salah satu pakar bahasa, yakni Jacobson (1960) dalam (Prasetyoningsih, 2001:19). Dia mendeskripsikan fungsi bahasa menjadi 6 fungsi sebagai berikut:
a.Emotif Speech
Ujaran yang berfungsi psikologis yaitu dalam menyatakan perasaan sikap dan emosi penutur.
b.Phatic Speech
Ujaran berfungsi untuk melihat hubungan sosial dan berlaku pada suasana tertentu.
c.Cognitive Speech
Ujaran yang mengacu kepada dunia yang sesungguhnya yang sering diberi istilah informatif.
d.Rhetorical Speech
Ujaran berfungsi mempengaruhi dan mengkondisi pikiran dan tingkah laku para penanggap tutur. Jadi sangat jelas pada fungsi ini, bahwa dengan bahasa seseorang dapat mempengaruhi maupun meyakinkan orang lain mengenai tujuan-tujuan yang diinginkan orang tersebut.
e.Metalingual Speech
Ujaran berfungsi untuk membicarakan bahasa, ini adalah jenis ujaran yang paling abstrak karena digunakan dalam membicarakan kode komunikasi. Adanya simbol bahasa yang bersifat abtrak ini memungkinkan manusia untuk memikirkan sesuatu secara berlanjut. Demikian juga bahasa memberikan kemampuan untuk berpikir secara teratur dan sistematis.

f.Poetic Speech
Ujaran yang digunakan dalam bentuk tersendiri dengan mengistimewakan nilai-nilai estetikanya. Seperti seseorang yang mengekspresikan pola pikir dan sikapnya dalam syair-syair puisi, baik berupa kritik maupun saran.

2.3.Ciri-ciri Penanda Bahasa
Ada beberapa ciri penting penanda bahasa, yaitu alat komunikasi, manusiawi, dipelajari (non instinctive), sistem, arbitrer (voluntarily produced) dan simbol (Prasetyoningsih, 2001:24-26).
a.Bahasa adalah alat komunikasi
Ciri penanda ini mengacu kepada fungsi primer bahasa, yaitu sebagai alat untuk mengungkapkan rasa, cipta, dan karsa. Bahasa sebagai komunikasi mempunyai fungsi sebagai alat penghubung antar anggota masyarakat; suatu komunikasi yang diadakan dengan mempergunakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
b.Bahasa adalah manusiawi
Hanya manusialah yang memiliki sistem simbol atau lambang ujaran. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, hanya manusia saja yang berbahasa, sedangkan binatang tidak berbahasa. Keadaan demikian ini menyebabkan manusia disebut sebagai homo loquens (man the speaking animal), yang berarti hewan yang mempunnyai kemampuan berbahasa. Manusia disebut juga homo grammaticus, artinya hewan yang bertata bahasa.
c.Bahasa adalah dipelajari (non instinctive)
Bahasa manusia itu tidak instingtif sebab tidak ada manusia yang dapat berbahasa tanpa berlatih terlebih dahulu. Sejak lahir manusia terus berlatih berbicara. Manusia ketika dilahirkan tidak langsung mampu berbicara. Kemampuan berbahasa bukanlah suatu warisan biologis, melainkan melalui proses pembelajaran. Apalagi dalam hal bahasa tulis, tidak mungkin manusia dapat menciptakan tulisan yang dapat mewakili keinginan, perasaan, ide, dan gagasannya.

d.Bahasa adalah sistem
Bahasa memiliki seperangkat aturan yang dikenal oleh para penuturnya. Perangkat inilah yang menentukan struktur apat yang diucapkannya. Struktur itu yang disebut grammer. Perangkat struktur ini kemudian disepakati oleh masyarakat pemakai bahasa. Karena ada kesepakatan maka manusia dapat mempelajari dan mengajarkan bahasa apa saja.
e.Bahasa adalah arbitrer
Bahasa manusia itu adalah manasuka, artinya diciptakan dan dipilih secara acak atau sewenang-wenang tanpa alasan. Manasuka berarti seenaknya, asal bunyi, tidak terdapat hubungan logis dan kata-kata sebagai simbol dengan yang disimbolkannya. Bahwa manusia mempergunakan bunyi-bunyi tertentu dan disusun dalam cara tertentu pula adalah secara kebetulan saja.
f.Bahasa adalah ucapan (vocal) dan simbol
Manusia berbicara menghasilkan suara atau bunyi bahasa. Bahasa itu ujaran berarti bahwa media bahasa yang terpenting adalah dengan bunyi-bunyi. Kenyataan bahwa bahasa itu ujaran menjadikan para linguis menyelidiki organ-organ ujaran dan menganalisis bunyi-bunyi yang dihasilkannya. Bunyi-bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia itu berupa bunyi ujaran yang berartikulasi. Dengan demikian bicara manusia itu berartikulasi sedangkan bicara binatang tidak berartikulasi.
Setiap deretan bunyi merupakan tanda sesuatu atau lambang sesuatu atau simbol sesuatu. Simbol atau lambang bisa terbuat dari bunyi seperti ujaran masyarakat, simbol juga bisa berbentuk tulisan. Lambang-lambang yang dipergunakan dalam bahasa itu disebut juga lambang bahasa atau lambang lingual atau linguistic simbol (bahasa Inggris) atau signe linguistique (bahasa Perancis).

2.4.Eufimisme & Bahasa Plesetan Dalam Wacana Politik
Menurut Mustansyir (1988:41), “Eufimisme yaitu pemakaian suatu ungkapan yang lembut, samar atau berputar-putar untuk mengganti suatu presisi yang kasar atau suatu kebenaran yang kurang enak”. Masih menurut Mustansyir (1988:41), salah satu kelemahan bahasa adalah arti kata-katanya dapat dimanipulasi; karena masyarakat kadangkala tidak konsekuen dengan alat yang masyarakat ciptakan sendiri, masyarakat berusaha memanipulasi arti kata atau ungkapan bahasa tanpa memperdulikan kaidah-kaidah yang telah masyarakat tentukan sendiri. Dalam konteks keindonesiaan, kata bukanlah sesuatu yang hampa. Terlebih lagi dalam wacana politik. Penggunaan eufimisme seolah-olah menjadi andalan untuk memperoleh konstituen sebanyak mungkin. Melalui eufimisme para politisi (baca: pejabat) berlomba-lomba untuk mengambil simpati masyarakat.
Secara khusus istilah wacana merupakan suatu peristiwa yang terstruktur yang dimanifestasikan dalam perilaku linguistik (atau lainnya). Wacana dapat juga dikatakan seperangkat propisi yang saling berhubungan untuk menghasilkan suatu kepaduan atau rasa kohesi bagi pendengar atau pembaca. Kohesi atau kepaduan itu sendiri harus dari isi wacana, tetapi banyak sekali rasa kepaduan yang dirasakan pendengan atau pembaca harus muncul dari cara pengutaraan wacana itu. Khusus untuk wacana lisan dapat berupa traksaksional, seperti pidato, ceramah/tuturan, dakwak, deklamasi, dan lain-lain. Ada juga wacana lisan yang berupa interaksional, seperti percakapan, tanya jawab (antara dokter dan pasien, antara polisi dan tersangka, antara jaksa dan terdakwa/tertuduh, dan sebagainya), perdebatan (dalam sidang DPR, diskusi, seminar) dan lain-lain (Hasan Busri, 2003:1-2). Tarigan (1984:2) mengatakan bahwa analisis wacana merupakan telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik bahasa). Dalam upaya menguraikan atau menganalisis suatu unit kebahasaan, analisis wacana tidak terlepas dari penggunaan piranti cabang linguistik lainnya, seperti yang dimiliki oleh semantik, sintaksis, fonologi, pragmatik, dan lain sebagainya. Lebih dari itu, analisis wacana dalam menganalisis tuturan berupa bahasa agar sampai pada suatu makna yang persis sama atau paling tidak sangat dekat dengan makna yang dimaksud oleh pembicara dalam wacana lisan atau penulis dalam wacana tulis, banyak menggunakan pula sosiolinguistik, yaitu cabang linguistik yang berupaya menelaah penggunaan bahasa dalam konteksnya. Oleh karena itu analisis wacana berupaya menginterpretasikan suatu tuturan yang tidak terjangkau oleh semantik tertentu, sintaksis, maupun cabang ilmu bahasa lainnya (Hasan Busri, 2003:2-3).
Dalam dunia politik penggunaan wacana menjadi peran utama karena dengan wacana kiprah sebuah partai politik atau politikusnya mampu menarik simpati masyarakat. Wacana dalam dunia politik dapat berupa isu-isu aktual dan penting yang layak didengungkan dan kemudian tokoh politik dapat mengemukakan pernyataan-pernyataan maupun pendapat-pendapatnya dengan menggunakan bahasa sejenis eufimisme maupun bahasa-bahasa plesetan dalam debat publik yang langsung maupun tidak langsung (berupa iklan politik). Seperti yang diungkapan Melanie Barnes (2004:16), wacana politik adalah debat politik umum yang terjadi di mana saja di antara masyarakat, baik berupa debat langsung maupun tidak langsung (dalam bentuk iklan-iklan politik). Setiap hari orang-orang di mana-mana akan berbicara tentang isu-isu yang penting.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1.Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian atau pendekatan kualitatif adalah proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15).

3.2.Sumber Data dan Data Penelitian
Semua riset dilakukan di Malang dan sifatnya sangat subjektif, didasarkan atas observasi atau pengamatan terhadap iklan-iklan politik pada pilkada kabupaten Malang 2010 yang tersebar dalam bentuk baliho, spanduk dan sejenisnya.
3.2.1. Jenis Data Penelitian
Data penelitian yang diperoleh didasarkan atas observasi atau pengamatan terhadap iklan-iklan politik pada pilkada kabupaten Malang 2010 yang tersebar dalam bentuk baliho, spanduk dan sejenisnya. Secara khusus, jenis data penelitian ini berupa klausa, frasa, maupun kalimat yang berupa eufimisme maupun bahasa-bahasa plesetan yang dijadikan jargon-jargon politik dalam pilkada kabupaten Malang tahun 2010.

3.3.Prosedur Pengumpulan Data
Untuk menghasilkan data penelitian diperlukan prosedur-prosedur pengumpulan data yang lazim. Prosedur yang ditempuh peneliti selama penelitian adalah Observasi atau pengamatan tidak berstruktur, artinya peneliti mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati suatu target penelitian. Dalam hal ini, peneliti observasi terhadap iklan-iklan politik pada pilkada kabupaten Malang 2010 yang tersebar dalam bentuk baliho, spanduk dan sejenisnya. Secara khusus, jenis data penelitian ini berupa klausa, frasa, maupun kalimat yang merupakan jenis eufimisme maupun bahasa-bahasa plesetan yang dijadikan jargon-jargon politik dalam pilkada kabupaten Malang tahun 2010. Untuk memudahkan pemahaman mengenai prosedur penelitian ini, dapat dilihat uraian langkah-langkah pengumpulan data yang dilakukan peneliti, antara lain:
1.Dengan menggunakan kamera digital, peniliti mengambil gambar iklan para calon kepala maupun wakil kepala daerah kabupaten Malang dalam pilkada tahun 2010, khususnya daerah kecamatan Lawang, Singosari, Lowokwaru, Klojen, dan kecamatan Pakis. Menurut peneliti, daerah-daerah tersebut dapat mewakili iklan-iklan di kecamatan-kecamatan lainnya di kabupaten Malang.
2.Setelah koleksi pengambilan gambar iklan tersebut dirasa cukup, peneliti memindahkan hasil pengambilan gambar tersebut dari kamera digital ke komputer.
3.Setelah koleksi data gambar iklan tersebut berada dalam piranti komputer, peneliti mengklasifikasi/mengelompokkan jenis-jenis iklan politik yang berupa eufimisme maupun bahasa-bahasa plesetan untuk selanjutnya dilakukan analisis data.

3.4.Instrumen Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan instrumen penelitian berupa observasi terhadap iklan-iklan politik pada pilkada kabupaten Malang 2010 yang tersebar dalam bentuk baliho, spanduk dan sejenisnya, baik yang berupa klausa, frasa, maupun kalimat yang merupakan jenis eufimisme maupun bahasa-bahasa plesetan yang dijadikan jargon-jargon politik dalam pilkada kabupaten Malang tahun 2010.

3.5.Teknis Analisis Data
Setelah berhasil memperoleh data penelitian dari hasil observasi terhadap iklan-iklan politik pada pilkada kabupaten Malang 2010 yang tersebar dalam bentuk baliho, spanduk dan sejenisnya, baik yang berupa klausa, frasa, maupun kalimat yang merupakan jenis eufimisme maupun bahasa-bahasa plesetan yang dijadikan jargon-jargon politik dalam pilkada kabupaten Malang tahun 2010, berikut ini rincian teknik analisis data yang dilakukan peneliti, antara lain:
1.Mula-mula peneliti mengumpulkannya secara keseluruhan. Kemudian dipilah-pilah kategorinya, mulai dari kategori eufimisme maupun yang berupa bahasa plesetan.
2.Data tersebut dibaca, ditelaah dan dibandingkan antara satu dengan yang lainnya untuk memperlancar penelitian.
3.Langkah berikutnya, peneliti melakukan reduksi data atau merangkum data untuk dilakukan pengkajian.
4.Selama pengkajian, peneliti melakukan sinkronisasi dengan pendapat-pendapat para tokoh bahasa yang terdapat dalam artikel maupun buku cetak mengenai iklan-iklan politik dalam pilkada kabupaten Malang tahun 2010 dilihat dari sudut pandang sintaksis, semantik, dan pragmatiknya.
5.Langkah terakhir, data penelitian disajikan dalam bentuk pembahasan guna memperoleh kesimpulan maupun pengambilan tindakan.

3.6.Pengecekan Keabsahan Data
3.6.1. Tahap Persiapan
Dalam tahap awal atau tahap persiapan, peneliti melakukan:
1.Meminta pengarahan kepada dosen pembina matakuliah Metodologi Penelitian (Moh. Badrih).
2.Membaca dan mengumpulkan referensi-referensi informasi dari artikel-artikel koran maupun internet untuk menindaklanjuti saran-saran dari sumber di atas.
3.Membuat konsep-konsep judul untuk diajukan.
4.Memilih dan menentukan objek penelitian setelah judul disetujui.
5.Menyusun proposal penelitian.
3.6.2. Tahap Pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan penelitian, peneliti melakukan:
1.Mengumpulkan data observasi.
2.Mentranskrip dan mendeskripsikan data yang diperoleh.
3.Mencari dan menentukan sumber-sumber karangan ilmiah dalam bentuk artikel maupun buku cetak sebagai alat sinkronisasi.
4.Mengolah data.
3.6.3. Tahap Penyelesaian
Sebagai tahap akhir untuk menyelesaikan kegiatan penelitian, maka perlu dilakukan:
1.Menulis laporan penelitian
2.Konsultasi laporan penelitian
3.Diujikan dihadapan tokoh akademisi
4.Revisi laporan
5.Penggandaan laporan dan diberikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: