Ratu Kidul

RATU KIDUL
Moh Badrih

Bagiku semua itu layaknya perang saudara antara Pandawa dan Kurawa. Apa mungkin cerita itu merupakan bias dari gejala alam seperti yang aku lihat saat ini. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi sudahlah, aku hanya kagum pada prinsipnya, prinsip yang sama-sama mempunyai keyakinan yang kuat tentang hak kepemilikan atas suatu kekuasaan.
Itulah tumpukan karang dan ombak, dua bersaudara yang ingin merebutkan singgasana. Di tengah berkecamuknya perang saudara itu, para ombak masih sempat berteriak agar aku segera meninggalkan pantai itu. Baginya, tempatku bukan di sini melainkan di Grapura tempat Paman Bisma menulis naskah Mahabrata..
Mendengar itu aku hanya tersenyum karena pendengaranku masih tajam untuk mendengar teriakan-teriakan ombak.
Sejenak perhatianku tertuju pada kaki yang kini dipenuhi butiran pasir. Layaknya seseorang yang dirundu rasa rindu, butiran pasir itu seperti tidak dapat dipisahkan dari sekujur kaki.
Aku terdiam sejenak, bimbang diantara benar dan salah. Aku merasa bersalah jika yang baru saya lakukan telah membuat hewan kecil itu tersakiti, dan kadang aku merasa benar karena yang baru saja terjadi karena betul-betul di luar kontrol akal sehat. Namun apalah daya nasi sudah menjadi bubur.
Dalam hal ini aku seperti orang yang telah berboat dosa besar saja, jangankan melakukan perbuatan seperti itu merobek atau memetik daun tanpa adanya maksud dan tujuan tertentu aku enggan melakukannya karena bagiku itu seperti melukai diriku sendiri.
Sudahlah, apa pun yang terjadi itu tidak lepas dari kehendak Allah, pikirku dengan tenang. Tiba-tiba angin di pantai Balai Kambang waktu itu berubah menjadi dingin, suasana pun telah jauh dari kegaduhan, memang saat itu aku berjalan sendiri mengelilingi bibir pantai.
Seperti berjalan tanpa tujuan, aku hanya bisa melihat tumpukan sampah yang berserakan di bawah kakiku. Ya! Memang seperti inilah kalau orang tidak mengerti lingkungan, pikirku.
Kegembiraan pasir yang bercampur rasa sedih bisa ku baca dari bentuknya yang tidak rata, setelah sekelompok anak kecil memanjakannya sebagai tempat bermain bola. Beberapa saat kemudian ombak menyisirnya dan menjadikannya rata kembali. Kini butiran-butiran halus itu seperti sekelompok orang yang kehilangan orang yang dicintainya karena setelah malam datang di tempat ini akan dijadikan tempat mesum puluhan pasangan yang sedang mendidih rasa rindu.
***
Kini pandanganku tertuju pada jembatan putus yang berada di sebelah barat Pure. Meninggalkan keramaian dan hamparan pasir yang sedang di rundu rasa rindu pada anak-anak keci sebenarnya bukan tujuan utamaku. Hanya kedamaianlah tujuanku yang nantinya bisa membuatku tahu tentang makna di balik Sang Hidup.
Setiap ayunan kaki aku nikmati, dan setiap ombak kecil yang menyentuh kaki, aku resapi sebagai bentuk sapaan yang menyambut kedatanganku. Tiupan angin yang terus membelaiku memaksaku untuk memegangi tubuhku yang waktu itu hanya dibalut kaos putih yang sudah pudar.
Entah siapa yang mau menemuiku di saat seperti ini, bule, kupu-kupu malam atau para pencari kayu bakar yang kebetulan sedang mencari kayu di sekitar pantai ini. Entahlah. Paling tidak di tempat ini, aku bisa menjawab satu pertanyaan mitos mengenai laut ini. Bagiku mitos itu tidak bisa dijawab oleh sembarang orang, hanya orang yang mempercayainya dan meyakininya saja yang bisa memecahkan semua itu.
Seorang pencari kayu bakar yang mempunyai keyakinan seperti itu, bisa saja memberikanku keterangan semua ini. Tentunya keterangan yang bisa diterima oleh keyakinan dan nalar sehatku. Bagiku seorang pencari kayu bakar pun bisa melebihi seorang pakar sejarah, manakala apa yang diutarakannya betul-betul pengalaman pribadinya secara langsung dengan hal tersebut.
Tapi yang jelas itulah sesuatu yang ada dalam pikiranku saat ini, suatu konsep dan kerangka berpikir yang jauh dari predikat seorang akademisi. Namun dalam hal ini, aku masih menaruh harapan besar untuk bisa bertemu dengan orang yang seperti itu, entah orang itu bule, pencari kayu, atau para PSK yang telah sekian tahun ada di tempat ini.
Sambil duduk di sebuah bongkahan batu besar aku mencoba melihat-lihat kondisi badanku saat ini. Memang, betul-betul kondisi yang memperihatinkan dan mengingatkanku pada sosok laki-laki di depan kampusku yang hanya duduk melamun dan bisanya hanya berbicara sendiri.
Mengenang semua itu aku hanya bisa tersenyum, karena setiap mahasiswi yang lewat di depannya selalu menutup mata sambil mempercepat langkahnya lantaran senjata kelaki-lakiannya kelihatan. Meskipun demikian tidak bisa ditampik, kalau para mahasiswi itu sedikit banyak ada yang menikmati tontonan itu. Hal tersebut bisa dilihat dari pola tingkah dan rasa geliannya ketika melihat itu. Itulah yang membuat saya tersenyum sendirian di tempat ini.
Sejurus kemudian aku mencoba melempar pandanganku ke laut lepas, laut yang bisa menerkam siapa saja dan kapan saja. Di tengah laut biru itu, aku menangkap ketenangan dan kedamaian yang tidak bisa kuperoleh di kampus tempat aku kuliah saat ini akan tetapi, ketenangan itu hanya ada di tengah samudra yang jaraknya sulit diraih.
Melihat fenomena yang seperti itu aku jadi teringat kata-kata bijak yang pernah disampaikan guruku ketika di bangku SMA bahwa kedamaian itu bukan melihat bentuk fisik yang sempurna melainkan ada di tengah-tengah lubuk hati terdalam. Memang benar, kalai dipikir dengan akan sehat ketenangan di tengah samudra itu bisa diperolah manakala seseorang itu telah melewati ombak-ombak besar yang menghadang di sekitar pantai.
Mungkin saat ini aku termasuk orang yang lagi menghadapi ombak ganas di perantauan ini, dan kelirunya aku karena selalu menghindar dari semua amokan-amokan ombak itu. Ketika masalah harus muncul satu-pesatu, mulai dari tunanganku yang diam-diam telah hamil dan orang tuaku yang tidak tahu-menahu tentang hal itu dan menganggapnya penyakit biasa sampai memaksaku untuk tetap menikahinya merupakan merupakan sesuatu di luar sepengatahuannku sebagai insan biasa.
Kemudian perjalananku meninggalkan segala permasalahan atau menghindar dari permasalahan yang ada adalah sikap kepengecutan yang seharusnya tidak dimiliki oleh mahasiswa. Namun, di lubuk yang paling dalam ternyata masih menyimpan harapan bahwa di tempat inilah aku akan menemukan jawaban dan akan mengambil keputusan.
***
Matahari saat itu belum terlalu ngantuk untuk terlelap ke dalam peraduannya, sinarnya yang tak berdaya berusaha berlarian dari pangkuan awan yang kesepian. Aku hanya membisu di atas bongkahan batu yang juga ikut-ikutan membisu. Sambil merasakan hangatnya air laut yang sudah sangat akrap dengan jari-jari kaki, aku berusaha membasahi tenggorokanku yang sudah mulai mengering.
Seorang kakek yang tiba-tiba muncul sempat membuatku tertawa. Namun biarlah rasa lucu itu terpendam di tubuhku atau keluar bersama desahan nafas gelisahku, karena bila aku tertawa apalagi dengan nada yang sudah sering ku tahan membuat kakek itu sedih atau tersinggung.
Cahaya matahari yang terbendung di perut awan membuat goresan lipstik bercap bibir mesra sangat setia menempel di hidung, di kedua pipi, dan keningnya dalam jumlah banyak. Melihat itu, aku pun sempat mau tertawa. Namun hal yang serupa tidak kulakukan. Aku hanya diam menunggu kakek itu menghampiriku dan aku pun berharap begitu. Tidak lama setelah itu, kakek itu pun menuju ke arah di mana aku sedang berbincang bersama pikiran yang semakin kalut.
“Jangan terlalu banyak melamun!” Katanya, sambil meratapi sejumlah kerang yang sudah didapat. Aku hanya tersenyum sebagai bentuk penghargaanku. Dia pun demikian. Melihatku yang seperti melihat sesuatu yang aneh pada dirinya, kakek itu malah duduk di sampingku.
“Ya memang inilah pekerjaan orang pesisir yang tidak punya apa-apa, setiap hari menjelang sore hanya mencari kerang yang terangkut arus, mau beker!”.
“Mohon maaf kakek ya, apa harus lupa cuci muka?”
Mendengar itu, ia kaget, rasanya baru kali ini ada yang menanyakan perihal polesan lucu yang sudah terbiasa dilihat oleh orang-orang di sekitar pantai. Sejenak ia meraba pipi kanannya yang sudah cekung karena terlalu banyak mengisap rokok. Sedikit lipstik yang menempel pada tangannya membuat kakek yang berpakaian apa adanya itu tertegun seperti mengenang sesuatu yang sangat menyedihkan di tempat ini.
Beberapa saat kemudian butiran air matanya mulai bercucuran melewati rongga pori-pori wajahnya yang sudah menggerut. Namun kakek yang sudah berusia sangat senja itu berusaha tegar dengan berusaha menyembunyikan aura kesedihanya yang mendalam.
“Nak, sudah banyak orang yang mengatakan aku Rakipi, lantaran perilakuku yang seperti ini!”
Mendengar ketidak wajaran itu, aku merasa penasaran dengan ungkapannya yang baru saja diucapkan. Sesekali kakek itu mengigit ibu jarinya, seperti ada pancaran mata air yang keluar dari celah-celah kukunya yang berwarna kecoklatan. Mungkin memang benar, karena setelah menggigit ibu jarinya kakek itu seperti menemukan kembali tenaganya yang hilang, termasuk ingatannya yang berpuluh-puluh tahun.
“Nak, pernah mendengar Ratu Laut Kidul?” Katanya dengan sedikit ragu. Entah kenapa dengan spontanitas aku langsung mengatakan iya. Aku tidak tahu apakah yang aku katakan ini akan mempunyai dampak yang positif terhadap kakek itu atau justru sebaliknya. Saat itu yang aku ingin lakukan adalah mencari sesuatu yang benar diantara yang sudah benar.
“Kalau yang hidup harus mati atau yang hidup harus hidup tapi sebenarnya sudah mati mungkin itulah kata yang tepat untuk kedua temanku itu. Hanya beberapa menit keduanya itu bersandau gurau di sini menikmati matahari senja yang akan berbisik pada camar-camar agar kedua orang itu segera meninggalkan pantai ini, namun apalah artinya para camar yang tidak mau mengerti bahasa matahari sehingga kedua temanku itu pun pada akhirnya saling berkejaran di tengah surutnya ombak dan menjumpai kincup ombak yang baru mekar di tengah sana dan mereka… h!
“Terus kenapa kakek masih ada di sini dan kenapa wajah kakek dipenuhi lipstik?”
“Itulah permasalahannya, dua hari kemudian teman perempuannya ditemukan terdampar di Pantai Ngliyep. Gadis itu sempat hidup selama satu minggu dan setela itu diapun juga menyusul pacarnya. Namun sebelum mati dia sempat bercerita mengenai sesuatu yang ada di luar nalar manusia.”
***
Aku bingung, linglung, mungkin juga sudah tidak waras. Apa yang aku lihat adalah sesuatu yang tidak mungkin dan mustahil bagi orang banyak. Dunia yang gelap dan hanya gelap yang ada karena memang tidak ada apa-apa. Sunyi lebih dari sekedar sunyi karena detak jantungku pun tidak bisa aku dengar.
Kegetiran, kecemasan, hanya itu yang ada. Aku hanya seperti melayang melewati dinding gelap yang curang. Aku tidak tahu saat itu sedang mengendarai apa. Yang aku tahu benda itu membawaku kepada satu titik, titik yang tidak lain adalah tempat yang maha luas, tak bertepi, lebih luas dari yang aku rasakan sebelumnya.
Jauh di tengah kemahaluasan itu, kumudian muncul untaian warna yang bermacam-macam dan beberapa saat kemudian dari bintik-bintik cahaya dan benang itu bermuncullan beberapa barang yang tidak pernah aku lihat di alam ini sehingga singgasana pun yang luasnya seperti alam ketakterhinggaan itu berada di depanku.
Aku hanyalah butiran pasir di atas permadaninya, dan berupa debu di depan singasananya. Barisan orang yang tidak bisa dilihat dengan jelas karena seperti menyatu dengan warna yang memenuhinya.
“Cucuku!” Suara itu, adalah suara terlembut yang belum pernah ku dengar.
“Cucuku, bangunlah sadarlah, kenalilah tempat ini, kalau belum kau kenal, maka sekaranglah waktu untuk mengenalnya!” suara itu sempat membuat aku bingung. Bingung karena aku tidak tahu dari mana datangnya, tapi aku mengenalnya. Aku hanya menggeleng, sebagai petanda bahwa aku tidak mengetahui sama sekali tempat ini.
“Cucuku, Ahmad! Tempat yang luas tak bertepi ini, keindahannya yang tak pernah kau lihat sebelumnya, kemegahannya yang tak pernah kau jumpai, dan kenyamanannya yang belum pernah kamu rasakan, hanyalah bagian terkecil dari keagungan tuhanmu. Ketahuilah Ahmad, bahwa tempat ini berada di dalam cangkang kerang yang sangat kecil yang berada diantara pertemuan air tawar dan asin, tempat ini diikat oleh ribuan ikan yang saling tarik-menarik ke-empat penjuru mata angin sehingga mengakibatkan keseimbangan di alam ini! Ahmad cucuku, satu ikan saja yang terjaring, meskipun tanpa disengaja akan mengakibatkan kegoncangan di tempat ini dan itu menyebabkan gelombang ombak besar yang kadang harus memakan jiwa, anakku!
Ahmad, di sini tidak siang ataupun malam tidak ada muda ataupun tua! Tidak ada batas waktu seperti di alam kamu, semuanya menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Warna gelap yang pernah kamu lihat itu sebenarnya badanmu sendiri yang merupakan batas diantara dunia ini, warna-warni yang kamu jumpai tak lain itu hanyalah nafsumu sendiri.”
Aku tambah bingung. Namun, di tengah kebingunganku itu, aku menemukan sosok kesejatian yang aku cari selama ini. Sejenak aku berfikir bahwa tempat inilah yang mungkin dirindukan banyak orang. Ingin rasanya aku berlama-lama di tempat tersebut, namun suara itu terdengar kembali.
“Cucuku, akulah buyutmu yang dikenal oleh banyak orang dengan sebutan Ratu Pantai Selatan. Tiada aku tampakkan wujud asliku, karena bagiku anggapan mereka tentangku itulah aku. Dan kamu Diana. Pulanglah! Kedatanganmu ditunggu banyak orang. Cucuku Diana!. Ahmad akan tetap di sini karena memang seperti ini perjanjiannya sampai pada saatnya nanti tiba dimana dia akan aku antar ke alam asalnya.
Aku tersentak, dengan mendapati tubuh yang sudah basah kuyup. Semerbak aroma dupa di segala sudut ruangan serta lantunan surat Yasin membuatku semakin kaget untuk sekedar bertanya ada apa. Namun akhirnya aku sadar bahwa itulah kekuasaan tuhan yang telah membuatku tertidur selama tiga hari tiga malam setelah ikan itu menyengatku.
***
“Itulah nak Dhika kenapa kakek masih tiggal di sini. Kakek berharap suatu saat nanti bisa menemukan Dhika dan akhirnya bisa pulang bersama-sama. Dan mengenai lipstik yang memenuhi wajah kakek ini hanya kakek yang tahu alasannya”.
***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: