Cerpen Pilihan Satu Pekan

KUPU-KUPU MALAM
Oleh : Syaiful

Hari yang biasanya sangat menyenangkan bagi Maria Zaitun,tapi berubah menjadi hari yang sangat menyedihkan dan menyakitkan.Dia Maria Zaitun sebelumnya nggak pernah merasakan hari yang sangat menyedihkan bagi seorang Maria Zaitun yang kini hanya bisa terbaring dan berfikir bagaimana agar penyakitnya cepat sembuh,tiba-tiba majikan rumah pelacuran itu berkata padanya.
‘’sudah dua minggu kamu berbaring sakitmu semakin menjdi dan nggak penah menghasilkan uang lagi, malah kamu banyak hutang padaku. Aku nggak tahu harus bagiman lagi ? kalau terus-terusan begini aku bisa bangkrut lebih baik kamu pergi dari rumahku ini ’’ majikan.
“ tiba-tiba malaikat penjaga firdaus wajhnya sangat tegas dan dengki membawa pedang yang menyala menuding padaku, rasanya darahku berhenti tak mengalir dan jantungku tidak berdetak” Maria Zaitun.
Hari sudah semakin siang jarum jam menunjukkan jam 11.00. maria zitun dari rumah pelacuran itu tanpa membawa selembar kainpun, mungikin tak ada lagi miliknya dan semua tman-temanny nggak ada yang peduli padanya. Maria zaitu terus berjalan meskipun badannya demam, matanya merah, bibirnya kering, dan mulutnya berdarah. Dia terus berjalan menulusuri jalan yang trik matahari, lalu Maria Zaitun datang kepada dokter tapi mash banyak pasein yang mengantri. Maria aitun dudu paling belakang tiba-tiba orang yang ada didekatnya pindah semua sambil menutup hidung, nggak tahu kenapa ?, mungkin karena bahu tubuh Maria zaitun. Setelah melihat kejadian itu juru rawat langsung memanggil Maria Zaitun, tapi nggak ada yang protes karena semua orang yang ada didekatnya sudah tahu penyakit Maria Zaitun.
“ Maria Zaitun hutangmu sudah banyak padaku ” kata dokter
“ iya, ” jawab Maria Zaitun.
“ sekarang kamu membawa uang berapa ?” Dokter bertanya
“ aku nggak bawa uang sama sekali ” jawab Maria Zaitun.
Dokter Cuma geleng-geleng kepala dan menyuruh Maria Zaitun membuka bajunya untuk diperiksa, baru mau membuka bajunya maritun zaitun menjerit kesakitan karena bajunya banyak yang lekat pada kulitnya.
” sudah, nggak usah dibuka ” kata Dokter
Dokter nggak jadi memeriksanya, lalu dokter menyuruh jururawat untuk memberi Maria Zaitun Vitamin C. seketika juga juru rawat kaget, karena Maria Zaitun nggak bawa uang masih mau diberi Vitamin C yang mahl harganya.
“ dokter, dia kan nggak bawa uang, masak mau diberi Vitamin C “ kata juru rawat.
“ mimang Maria Zaitun tidak bawa uang sama sekali, tapi kita harus mempunya rasa toleransi sama dia. Kalau nggak diberi Vitamin C akan semakin parah penyakitnya ” jawab dokter.
‘’baiklah dok’’ jawab juru rawat.
Jarum jam sudah menunjukkan 12.30 matahari masih di puncak, Maria Zaitun berjalan tanpa alas kaki. Dia Maria Zaitun sangat bahagia, karena diberi obat sama dokter meski nggak bawa uang. Maria Zaitun terus berjalan menuju gereja, tapi pintu gereja sudah terkunci. Setelah melihat pintu gereja terkunci langsung Maria Zaitun menuju pastoran dan menekan bel, tiba-tiba pastoran keluar.
‘’kamu mau ap? Pastor karang sedang makan siang dan ini bukan jam bertemu” kata koster.
“ma’af kalau saya mengganggu, tapi saya sangat perlu sama pastor” jawab Maria Zaitun.
“memangnya sangat penting?” nanya lagi koster.
“iya” jawab Maria Zaitun.
“ya tunggu di sini!” seru koster.
Lalu koster kedalam sambil menutup pintu. Maria Zaitun menunggu di luar sambil belingsatan dan kepanasan. sudah satu jam menunggunya, tak lama kemudiyan pastor datang sambil merokok.
“kamu perlu apa?” tanya pasto.
“aku mau sembahyang dan memohon ampun atas semua dosa yang selama ini saya kerjan dan tak lama lagi saya akan mati” jawab Maria Zaitun.
“emangnya kamu kenapa?” tanya pastor.
“saya punya penyakit raja singa” jawab Maria Zaitun.
Mendengar jawaban Maria Zaitun pastor langsung kaget.
“memangnya kamu PSKya?” tanya pastor.
“iya, saya PSK”jawab Maria Zaitun.
“berarti selam ini kamu melakukan dosa besar?” tanya pastor lagi.
“iya, tapi saya yang melakukan semua ini sudah nggak ada pilihan lagi” jawab Maria Zaitun.
Setelah cukup lama maria zaitu bicara sama pastor. Lalu diya Maria Zaitun meneruskan perjalanannya nggak tahu kemana tujunnya. Matahari terus menyala dan panasnya menyengat kaki Maria Zaitun rasanya seperti terbakar, tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang dan perutnya sakit, iya merasa lapar tapi Maria Zaitun nggak punya uang mau minta sama orang nggak ada satupun yang memberinya. Iya terpaksa mencari sisa-sisa nasi di tong sampah, setelah mendapatkan nasi dari tong sampah, lalu nasi itu di bungkus dengan daun pisang. Diya Maria Zaitun terus berjalan setelah sampai di tempat yang teduh iya makan sisa nasi itu.
Waktu terus bergulir dan Maria Zaitun sudah terisi perutnya tapi Maria Zaitun merasa nggak enak mongkin karena nasi itu atau karena penyakitnya itu. Malam telah tiba hanya makhluk malam yang menemaninya dan merasa indah malam itu mongkin karena ada sinar bulan yang menyenari. Waktu terus bergulir malampun terus berlarut tiba-tiba terdengar ada suara laki-laki yang memanggilnya sehingga membuat Maria Zaitun kaget.
“benarkah kamu maria zaitu?” tanya lelaki.
“iya,aku Maria Zaitun” jawab Maria Zaitun.
Setelah tahu bahwa itu Maria Zaitun, lelaki itu langsung mendekatinya dan hati Maria Zaitun berdebar-debar, karena Maria Zaitun merasa pernah kenal suara itu, tapi nggak tahu dimana yang jelas bukan di ranjang.
“jadi kamu benar-benar Maria Zaitun, dan kita ketemu di sini? ” kata lelaki itu.
Tapi Maria Zaitun diam seribu bahasa karena lelaki itu dengan tiba-tiba mencium dan merabah seluruh tubuhnya. Rasanya Maria Zaitun belum pernah merasakan ciuman dan belaian sehangat itu, seketika itu juga Maria Zaitun langsung memejamkan matanya dan fikirannya merasa berlayar ke beberapa samudra. Setelah lelaki itu melepas belaiannya maria zaitu berkata.
“semula aku rasa hanya mimpi?” kata Maria Zaitun.
Tapi lelaki itu nggak bicara sepatah katapun dan lelaki itu hanya memandang wajah Maria Zaitun.
Malikat penjaga firdaus wajahnya jahat dan dengki dia membawa pedang yang menyala, tapi malaikat itu mnggak bisa apa-apa dengan kaku malaikat itu melangkah nggak tahu kenapa?. Sepi dan duka rasanya telah sirna karena malaikat itu sudah nggak memandang dan menudingku lagi, sambil bahagia dan menari-menari aku memasuki taman firdaus itu.

Maria Zaitun Si Kupu-kupu Malam
Oleh: Tutut Lailatul Fitriyah

Di sebuah wisma Pekerja Seks Komersial, terbaring lemah dan memang sudah agak tua. Sudah terhitung hari ke-14 ia terbaring sakit dan sangat merepotkan. Germo wanita inilah yang paling merasa direpotkan. Bagaimana tidak??? wanita yang umurnya sudah lumayan tua ini sakit parah yang menjijikkan dan menimbulkan bau busuk yang menyebar ke setiap sudut ruangan. Selama ia sakitpun ia berobat memakai uang si Germo, yang selama ini menjadi majikan baginya selama menjadi kupu-kupu malam.
“Sudah dua minggu kamu berbaring, dan sakitmu makin menjadi. Kamu tak lagi menghasilkan uang, malahan kepadaku kamu berhutang. Ini beaya melulu, aku tak kuat lagi. Hari ini kamu harus pergi!.” terdengar suara yang lantang dan tegas keluar dari mulut sang majikan. Dan terpaksa wanita lemah itupun terbangun san angkat kaki dari rumah sang majikan.
Dalam hati ia merintih: “Malaikat penjaga Firdaus, wajahnya tegas dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku. Maka darahku terus beku. MARIA ZAITUN namaku. Pelacur yang sengsara, kurang cantik dan agak tua

* * *

Di siang bolong, matahari di tengah langit yang tak bermega dan tak berangin, saat itu tepat pada jam dua belas. Maria Zaitun keluar rumah pelacuran. Tanpa membawa apa-apa. Tak ada lagi miliknya bahkan teman pun ia tak punya. Maria berjalan sempoyongan, badannya demam, Sipilis si Raja Singa membakar tubuh Maria. Penuh borok yang menjijikkan di kelangkang, leher, ketiak dan bagian payudaranya. Matanya merah, bibirnya kering, dan gusinya berdarah. Sakit jantungnya kambuh pula. Maria Zaitun tidak berhenti tuk melangkahkan kakinyamenuju ke tempat dokter langganannya.

* * *

Borok yang menjijikkan telah bertempat pada tubuh Maria, bau busuk yang sangan menyengat membuat pasien-pasien yang sudah lama antre merasa terganggu dan menyingkir ketika Maria Zaitun tiba. Sebelum dokter kehilangan banyak pelanggan, langsung saja jururawat mendahulukan Maria dan membawanya masuk ke ruang dokter dan pasien lain tak ada yang marah, cukup diam sambil menutup hidung dengan tangannya.
Maria Zaitun ternyata sudah terlalu banyak berhutang pada dokter langganannya itu. Sampai akhirnya dokter hanya memberinya injeksi vitamin C karena Maria tak bisa membayar obat dan lagi jelas ia sudah hampir mati jadi tidak perlu lagi obat mahal yang diimport dari luar negri.

* * *

Siang yang begitu panas, matahari masih saja di puncak, saat itu sekitar jam satu. Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu di atas aspal yang jelek dan rusak. Maria melangkah menuju gereja. Maria ketakutan karena merasa sudah gagal dalam hidupnya. Ia butuh Tuhan menjelang ajalnya. Namun setelah sudah tiba di gereja, Maria dibuat menunggu sema sekitar satu jam hanya untuk bertemu Pastor gereja. Karena kegalakan Maria Zaitun yang seperti macan betina setelah Pastor menyinggung dosa-dosa Maria, Pastor pun menganggap ia sudah gila dan memang ia tak butuh Pastor melainkan dokter jiwa, dan meninggalkannya pergi begitu saja.

* * *

Jam menunjukkan pukul tiga, matahari masih saja menyala dan angin tetap enggan tuk hadir. Maria Zaitun kelaparan di atas jalan aspal yang terbakar. Maria terpeleset kotoran anjing yang membuat boroknya mengeluarkan darah dari kelangkangnya dan meleleh di kakinya. Seperti sapi Maria melanjutkan berjalan sambil mengangkang. Setelah sekian jauh ia berjalan pandang matanya mulai berkunang-kunang, napasnya pendek-pendek, ia merasa lapar. Sangat lapar. Pada suatu ketika dilihatnya tong sampah belakang restoran. Langsung saja Maria menghampiri tong sampah yang dianggapnya peti makanan gratis buatnya. Maria memunguti sisa-sisa makanan yang terbuang dan dibungkusnya pada daun pisang yang juga ada dii tong sampah itu. Lalu ia membawa makanan lezatnya itu berhati-hati dan melanjutkan perjalanannya menuju luar kota.

* * *

Seperti bekecot ia berjalan dengan bungkusan makanan yang dibawanya. Saat itu jam menunjukkan jam empat siang menjelang sore, namun belum juga dimakan bungkusan yang ada di tangannya. Keringat bercucuran sedang membasahi tubuhnya, rambutnya jadi tipis karena panasnya matahari yang tak mau beranjak dari atas Maria saat itu. Gemetar dan sangat ketakutan yang ia rasakan , bahkan selalu menghantui langkah Maria, namun itu semua tak menghentikan Maria untuk menuju ke luar kota.

* * *

Satu jam kemudian, sampai juga di luar kota. Jalan tak lagi beraspal tapi berganti dengan debu yang menguasai udara. Setelah berjalan sekitar satu kilometer ia telah meninggalkan jalan raya dan berbelok masuk di area persawahan. Tiba jam enam sore, Maria Zaitun sampai ke kali. Angin mulai bertiup dan matahari turun. Maria merebahkan tubuhnya di pinggir kali. Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya. Lalu Maria memakan apa yang telah dibungkusnya tadi dan dibawa tangannya semenjak beberapa jam yang lalu. Baru sedikit ia pun berhenti. Walau badannya masih lemas, nafsu makannya sudah tak ada lagi, kemudian ia minum air kali yang segar itu.

* * *

Malam pun tiba……
Ketika itu menunjukkan waktu pada jam tujuh. Serangga bersuiran, air kali terdengar menabrak bebatuan. Banyak pohon dan semak-semak di dua tepi kali itu. Maria Zaitun mulai nampak tenang dan tak takut lagi. Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya. Begitu indah memang yang diingatnya. Teringan saat mandi di kali bersama ibu tercintanya, pernah juga ia memanjat pepohonan bersama teman-temannya, dan memancing ikan dengan pacarnya pada saat dahulu. Ia tak merasasepi dan takutnya pergi. Tapi ketika mulai lebih jauh lagi ia mengingat masa lalunya, cerita tentang hidupnya, Maria jadi berduka, menangis yersedu-sedu memohon ampun pada sang Kuasa, ia sadar ia telah gagal dalam hidupnya, namun ia benar-benar menyesalinya kali ini.

` * * *

Seorang lelaki datang di seberang kali dan memanggil namanya: “Maria Zaitun, engkaukah itu?”. Dan Maria menjawab “Ya” dengan penuh keheranan. Lalu lelaki itu menyeberang kali dan menghampiri Maria. Lelaki yang tegap dan elok wajahnya, rambutnya ikal dan matanya lebar. Hati Maria Zaitun berdebar, merasa pernah kenal leleki itu. Namun ia lupa di mana, yang jelas tidak di ranjang ketika ia menjadi kupu-kupu malam.

* * *

Lelaki itu sekarang telah berada di hadapanny. “Jadi kita ketemu di sini?” kata lelaki itu. Maria Zaitun hanya dapat terdiam membisu keheranan. Namun pada saat Maria terdiam, lelaki itu membungkuk menciumi mulut Maria. Maria membalas ciuman itu karena ia memang suka. Ia belum pernah merasa terbang setinggi ini. Maria makin merasa terbang dan terbang ke samudra yang indah dan sangat indah ketika lelaki itu merabai seluruh tubuhnya hingga melepas semua yang mereka pakai saat itu. Tragedi bercinta yang begitu hebat, percumbuan yang begitu tak terbayangkan nikmatnya, saling mengasihi dan memuaskan satu sama lain terjadi saat itu.
Hingga suatu ketika Maria bertanya: “Siapakah namamu?” dan lelaki itu menjawab: “Mempelai.”. Maria tertawakarena dipikir lelaki itu sedang melucu. Lalu mereka meneruskan apa yang dilakukannya. Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu. Dan tiba-tiba ia berhenti. Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya itu. Di lambung kiri, telapak tangan dan dua telapak kaki. Akhirnya Maria Zaitun tahu siapa lelaki yang membawanya terbang ke samudra yang indah itu. Dan pada saat Maria menebak dengan memandang matanya dalam-dalam, lelaki itu pun menganggukkan kepala yang berarti “Betul/Ya”
Maria Zaitun bahagia telah bertemu dengan orang yang dicintainyadan kini Maria tak sendiri lagi. Rasa takut dan gemetar telah sirna dalam hidupnya. Maria memulai hidup yang benar-benar baru dan memang jauh lebih baik bersama lelaki itu. Ternyata Tuhan Yang Maha Pengampun telah mengampuni semua dosa-dosanya dan mempersilahkan Maria Zaitun si kupu-kupu malam menari memasuki taman Firdaus yang begitu indah bersama orang yang sangat dicintainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: