Khaya

Sang KHAYA
Moh Badrih

“Sruuut”. Bunyi tenggakan kencur itu, yang masih terdengar nyaring dari sela-sela bibirnya. Sambil menikmati sisa jamu yang berdesakan masuk ke tenggorokannya, cangkir bermotif China itu pun di letakkannya tanpa menimbulkan bunyi. Berkali-kali gadis itu mencoba membersihkan bintik-bintik keringat di keningnya, namun hal itu tidak membuahkan hasil. Keringat itu seakan getah pohon pisang yang tak mau di bendung pelepahnya sendiri karena telah tergores benda asing. Sekali gadis itu menjulurkan lidahnya dan berusaha menikmati sisa pahit yang masih menempel tipis di bibir bawahnya.
Di ufuk barat matahari dengan malu-malu menyembunyikan wajahnya di celah-celah cadasnya awan. Sementara angin yang mengiringnya terus berlari menapaki lorong-lorong kecil di dekat bilik tua yang dipenuhi ukiran Karduluk. Sesaat angin itu pun mengelus pipinya yang ranum dan berhasil menggoyang beberapa helai rambutnya yang belum tertata rapi.
Sejenak gadis itu mencoba mengembalikan posisi rambutnya dengan jari-jari tangannya yang kelihatam kaku, namun itu tak membuatnya berpaling meratapi kolam keruh yang dipenuhi Ikan Tawes. Entah kenapa. Mungkin belaian angin itu masih terasa sangat kasar dibanding dengan sosok laki-laki alim yang pernah menikahinya beberapa hari yang lalu dan membuatnya sempat pingsan pada malam itu.
Sebagai alumni pondok pesantren, Khaya mempunyai cara sendiri untuk membuat suasana yang romantis dengan istrinya. Tentunya itu semua tidak lepas dari teori-teori yang telah dipelajarinya dari beberapa kitab dan pengalaman bersama teman-temannya ketika masih ada di pondok.
Memang ketika di pondok, kesenangan santri membahas seputar perempuan. Mulai dari sosok yang dianggapnya ideal sampai membahas bagaiiman cara menggaulinya dengan “baik”. Tak jarang dari mereka ada yang sakit perut karena terbingkal-bingkal ketika mendengar pendapat salah satu santri yang terdegar menarik dan lucu. Sebelum memulai diskusi itu, dalam perjalanan dari masjid ke asrama mereka menyuarakan ‘ayo shohiban di kamar’. Biasanya yang mereka ajak santri yang sudah kelas 5 dan 6 Diniyah yang notabenya sudah siap beristri.
Bagi santri yang sudah mengerti sandi itu langsung menuju kamar yang dimaksud dan langsung menepi ke di pojok atau di dekat pintu. Namun, bari santri yang belum kenal untuk satu dua kali mereka mengabaikannya dengan dalih yang bermacam-macm. Anehnya, diskusi itu seperti candu saja, santri yang telah mengikutinya akan cepat ketagihan untuk mengikuti kembali keesokan harinya. Meski diskusi itu telah memakan waktu 2 jam bagi mereka itu masih putaran jarum jam yang belum menunjukkan dua menit. Mereka pun semakin asyik dengan pembicaraaan dan imaji yang semakin tak bertepi.
Fathor, sebutlah demikian adalah satu dari 40-an santri yang sedang mengikuti diskusi taman Surga saat itu. Satu kalimat yang keluar dari rangkaian katanya sangat memamakau dan bisa membuat semua yang mendengar mematung selama sekian menit. Mungkin cara itukah yang dipersembahkan Khaya kepada gadis itu.
***
Malam setelah akad nikah, gadis itu gemetar. Mungkin itu hanya perasaan gerogi saja bagi gadis yang belum pernah bersentuhan langsung dengan laki-laki. Dan beberapa detik kemudian, Khaya pun datang sambil menutup pintu kamar itu pelan-pelan. Sambil memejamkan mata dengan angan-angan yang telah terlampui jauh terhadap Khaya yang sebentar lagi akan mengambil mahkotanya, gadis itu merapatkan tangannya di celah-celah pahanya sebagai ungkapan halus untuk mempersilahkan melakukannya.
Namun semua angan itu buyar setelah Khaya tidak menyentuh bagian yang telah dibayangkan dan telah dipersiapkan sebelumnya. Malam itu Khaya lebih memilih rambutnya yang masih ikal karena seharian disanggul ketimbang bagian tubuh yang lain yang lebih menggairahkan bagi kebanyakan laki-laki. Dengan nyanyian syahdu yang menalu-nalu dan masih kedengaran asing di telinga gadis itu lambat laun air matanyapun mulai keluar dan membasahi kebayanya yang masih melekat rapi di badannya yang langsing.
Tak lama setelah itu Khaya membaringkan tubuh gadisnya itu dengan isak tangis kecil yang nakal, karena seaktu dibaringkan gadis itu memukul-mukul pundak Khaya dengan manja.
“nakal, nakal” tuturnya sambil memberontak kecil.
Derap langkah detik pun berlalu satu persatu meninggalkan air mata, pukulan manja, dan gigitan genit yang masih terasa di hidung Khaya. Namun sesuatu yang ditunggu-tunggu itu tak kunjung tiba dipermukaan. Beberapa saat gadis itu mendesah setelah hembusan nafas hangat yang keluar dari hidung dan mulut Khaya melewati wajahnya yang binar, melintasi dadanya yang berbujur kaku dan sampai di lembah yang menawarkan kenikmatan alam semesta. “Ayo teruskan!, Lakukan Khaya!, Merabuhlah di kesepian badan ini! Tutuplah mataku dengan segala kenikmatan yang tidak pernah aku rasakan malam ini”. Ujar batinya.
Di balik tembok anyaman, sepasang suami istri itu di gambak-gambak ketegangan yang semakin mencekam, pori-pori gadis itu pun seperti pengembara yang kehausan di gurun pasir. Entah mau bagaimana, hembusan nafas hangat Khaya yang ditunggu-tunggunya itu tak kunjung merabuh di tengah-tengah kerinduan selaput daranya.
Beberapa saat setelah berlalunya gelap dari balik tebing, dia telah mendapati tubuhnya dalam keadaan basah, setelah ibu dan bebearapa orang dari kerabat Khaya memandikannya dengan air kembang. Merasakan itu, gadis itu hanya menangis tersentak-sentak.
“Sudahlah pieng, itu hal yang biasa bagi seorang gadis pada malam pertama” kata salah satu dari keluarga Khaya.
“Ia sudahlah, lama-kelamaan juga ngak akan sakit”, tutur orang lain yang sempat menyiramkan air kembang di kepalanya.
Mendengar kata-kata itu, dia pun semakin semakin terisak-isak.
***
Sejenak gadis itu melepas penatnya dengan membasahi wajahnya yang masih nampak lemas. Sambil mengaca, bekas jerawat itu masih kelihatan hitam di pinggir hidungnya yang mancung. Air yang mengalir pelan mulai membasahi kening dan menetes dibawah dagunya yang lancip. Seperti derasnya air di sela-sela wajahnya, kini malam pertama itu telah berlalu begitu saja tanpa menorehkan sepatah kata. Tidak terasa, malam itu telah memasuki malam kedua dari pernikahannya dengan Khaya.
Suara beduk dan adzan magribpun mulai menggema di mana-mana yang petanda memberi restu kepada gadis itu dan khaya untuk merasakan kembali nikmatnya berlabuh di antara taman surga. Sejuta harapan muncul dalam benak gadis itu, yang mengharap malam itu akan lebih mengesankan dan membahagiakan dari malam pertamanya.
“Kak, kak!” Panggil gadis itu dengan nada sayu.
“Kak Khaya”. Imbuhnya dengan penuh harap.
Sambil meremas-remas keempat jari kirinya gadis itu berulang kali memanggil nama yang sama. Namun seperti tak ada suara yang memanggilnya di ruang itu, sehingga Khaya masih tetap dalam keadaan bersujud. Apa gerangan yang terjadi pada suaminya malam itu, sukar di tebak. Apakah Khaya melaksanakan sujud syukur untuk kesekian kalinya karena telah mendapatkan wanita yang baginya ideal seperti sosok yang diperdebatkan teman-temannya ketika masih di pondok, atau Khaya lagi memikirkan cara menyentuh gadisnya dengan cara lain yang pastinya harus berbeda dari malam pertamanya. Entahlah, semuanya itu hanya membuat gadisnya kesal dan perasaan marah yang dipendam.
Sejenak, gadis itu menyandarkan punggungnya yang ramping pada salah-satu tembok yang penuh ulesan batu gamping. Dengan ukuran kamar tiga kali empat, gadis itu terpaku di atas hamparan pasir yang mengisi sebagaian luas ruangan. Sesekali gadis itu memangku lututnya sambil melirik Khaya yang masih bersujud. Namun ketika teringat dengan usahanya tidak membuahkan hasil, gadis itupun melepaskan pangkuan lututnya sambil menendang butiran pasir ke arah Khaya yang sedang bersujud.
“Kak!” Panggilnya dengan nada setengah tinggi. Namun panggilan itu seperti lenyap ditelan kesunyian.
Di atas atap rumah Joglo yang kelihatan lugu, hanya nampak ayunan daun asam tertatih-tatih yang mulai kelelahan. Kini, rumah sederhana itu mulai diselimuti sepi yang kehadirannya tak terelakkan. Sepintas sepipun mencoba menyuguhkan beranika corak keindahan dengan mendatangi gadis lunglai bersama dunia mimpi yang telah siap mengantarnya ke alam keindahan. Entah mengapa, dunia itu hilang sebelum tiba. Rambutnya yang terurai basah menggeliat dan meninggalkan beberapa tusuk kondek yang sebelumnya mengikat sanggul kecilnya.
Dari sudut remang dan samar, gadis itu membiarkan Khaya menyisir rambutnya yang masih terasa basah dengan butiran madu bercampur melati. Gadis itupun tersentak dan segera membersihkan kelopak matanya yang mulai dihinggapi kotoran.
“Alhamdulillah.” Kata Khaya, dengan nada rendah.
Beberapa detik kemudian, waktu berlari mendekati hening, yang terdengar hanya desahan nafas panjang yang keluar dari sepasang pemabuk rindu. Sejenak gadis itu tanpak tergopoh-gopoh dengan hembusan nafas yang tersendat-sendat. Tanpa berfikir panjang gadis itu duduk bersimpuh sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Khaya.
“Kak, ada yang salah dengan diri adik sehingga Kak Khaya memperlakukan adik seperti itu!” kata gadis itu sambil membuang nafasnya yang tertahan lama di dadanya.
“Dik, kakak hanya berusaha memperlakukan adik dengan baik, setidaknya seperti itulah agama mengajari kakak!”
“Seperti siapakah sih Kak, sosok agama itu yang telah mengajari kakak sangat santun kepada sesuatu yang telah dihalalkan. Apakah dia seorang bidadari yang ditingalkan kawan-kawannya ketika mandi di telaga, dan dia memberanikan diri mengajarkan bahasa kayangan kepada sebagian manusia, atau dia sosok orang arif yang telah meninggalkan kehidupan dunia sehingga puncak kenikmatan dunia pun tidak mau disentuh para pengikutnya!”
“Dik, kalau ada seseorang musafir di tengah gurun pasir yang sedang kehausan kemudian dia menemukan semangkok air dan meminumnya, maka baginya itu merupakan penyempurna raga dan jiwanya.” Mendengar hal tersebut, gadis itu meneteskan air mata dan merangkul Khaya seperti pertama kali menjumpainya.
Khaya adalah sosok laki-laki pertama yang mengguncang perasaan dan ketenangan jiwanya. Maklum meskipun gadis itu menjadi bunga desa, tapi jarang laki-laki mendekatinya lantaran dia putri dari seorang tokoh yang sangat disegani di desa itu. Tak sedikit laki-laki yang memilih mengurungkan niatnya untuk menaruh hati pada gadis itu lantaran sungkan kepada orang tuanya.
Namun, berbeda dengan Khaya yang memanfaatkan agenda kunsultasi sebagai wahana untuk mengenal lebih dalam putri satu-satunya guru SD itu. Hampir tiap malam, Khaya mendatangi rumahnya hanya sekedar untuk berdiskusi mengenai keadaaan masyarakat yang dijadikan tempat KKN-nya. Setelah diskusi pemuda berlatar pesantren itu minta izin untuk dipernankan menemani putrinya yang tengah menjahit.
Sejenak gadis itu berhenti dan menoleh Khaya yang berjalan pelan menghampirinya. Namun ketika itu dia memalingkan wajahnya dengan senyum. Rambut yang dibiarkannya terurai panjang dan kaos ketat lengan pendek yang membalut tubuhnya sepintas memperlihatkan bentuk tubuhnya yang langsing dan sempurna di depan Khaya.

“Assalamualaikum Mas Ustad!” Ungkapnya dengan rendah
“Waalaikum salam warohmah!” Sahut Khaya, sambil membentangkan tangannya dengan maksud memberi hormat. Bersamaan dengan itu, gadis yang sedang duduk itu langsung menghampiri dan memeluk Khaya seperti kekasih yang baru bertemu. Dengan mata terpejam sejenak gadis itu merasakan hangatnya tubuh Khaya, namun adegan itu tidak lama, karena setelah itu Khaya berusaha melepaskan ikatan tangannya sambil menoleh ke arah ayahnya di belakang. Untunglah, yang dikhawatirkanpun seakan melesat dari bayang-bayangnya karena ayah gadis itu sudah meninggalkan kamar beberapa detik setelah Khaya melangkahkan kakinya ke arah anaknya. “Selamet-selamet.” Gumam Khaya dalam hatinya.
“Silahkan Mas Ustad!” Tambahnya, dengan nada serupa. Mendengar itu Khaya cepat-cepat duduk sembari membetulkan kopyahnya yang miring.
***
Tak terasa matahari sudah mulai condong ke bawah mendekati gumpalan awan yang sedang mempersiapkan kemerdekaan. Entah apa yang diperbincangkan. Mungkin sedang membuat teks proklamasi atau mendengarkan radio yang akan mengabarkan sekutu Belanda yang akan segera menyerah. Entahlah, aku tidak memikirkan hal itu. Dengan sebatang rokok kecil yang hampir habis, aku mencoba memberanikan diri untuk menatap perempuan itu, perempuan yang merindukan rasa manis dari sesuatu yang ditunggu.
Sekali dia memandangku, namun hal tidak membuatnya tenang, beberapa detik setelah itu dia membuang pandangannya pada sepasang kupu-kupu yang saling berkejaran dan menyelinap diantara pohon-pohon delima yang ranggas karena sudah tidak terawat.
Suasanapun berganti sejuk dengan datangnya angin laut yang membawa pesan dari para camar. Kini gadis itu tanpak gelisah. Setidaknya itu yang saya tangkap dari kedipan matanya yang tanpak mundar-mandir menelusuri daun cemara yang kepanasan. Tanpa disadari gadis itu menggigit siku relunjuk tangannya yang ditekuk sambil mencoba memejamkan matanya berkali-kali namun tak berhasil dilakukannya.
Di sebelah barat rumahnya yang masih terlihat jaring laba-laba kecil, matahari masih setia menunggunya. Mungkin matahari itu ingin membantu ingatannya pada malam kedua setelah pernikahnnya. Namun memang demikian adanya. Hal ini terlihat dari sinarnya yang berdasakan melewati celah-celah pohon bambu yang rimbun di samping rumahnya. Ketika gadis itu merundukkan wajahnya beberapa helai bayangan daun bambu sempat melenggang di pipi kirinya dan membuat pipi yang ditaburi bedak tipis itu sempat memerah.
“Dik lagi memikirkan apa?”
“Ah, Kak Khaya! Ngagetin aja!” ujurnya gadis itu dengan suara yang terpenggal-penggal. Dengan perasaan yang setengah waswas gadis itu mencoba mengejar Khaya sambil mengayunkan kakinya. Sejenak gadis itu menarik nafas dan membuangnya jauh-jauh bersama iringan musik sholawat yang baru saja diputar oleh Khaya.
Tidak terasa jam embok buatan buatan Jerman yang masih dipajang di pojok rumah itu. sudah menunjukkan pukul 17.00. Berarti setengah jam lagi waktu sholat ashar akan habis dan diganti waktu mahgrib.
Suara jam yang sudah kelihatan sangat tua itu membuat Khaya cepat-cepat mengambil air wudhu dan mengerjakan sholat ashar. Sebelum mendirikan sholat Khaya mencoba melirik gadisnya dengan harapa bisa sholat bersama-sama. Namun harapan itu seperti fatamorgana saja. Selesai sholat Khaya telan mendapati gadisnya memakai kebaya yang membuat lukuk tubuhnya terlihat jelas. Memang telah menjadi kebiasaan yang tidak tertulis bahwa pasangan yang baru menikah sang suami harus memandikan istrinya sebelum waktu magrib sampai tujuh hari berturut-turut.
“Dik, kakak capek dik! Mandi sendiri dulu ya!” kata Khaya sambil melepas kopyhnya.
“Bukankah agama mengajarkan kepada kita untuk selalu menepati janji?” kata gadis itu sambil menundukkan wajahnya. Tanpa disadari gadis itu telah berani mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan kepada suami yang selalu diidamkanya itu. Namun apa boleh buat kata-kata itu telah melesat di antara perut angin yang tidak bisa ditariknya lagi. Kini yang tinggal hanyalah penyesalan dan perasaaan cemas. Kini gadis itu hanya bisa diam dan menaruh kedua telapak tangannya di celah-celah pahanya yang ditutupi kain batik sebagai tanda penghormatannya.
Mendengar kata-kata itu Khaya terdiam sejenak, seperti ada sesuatu yang melintas di benaknya. Tapi entahlah, dia lebih senang memandangi istinya yang tertunduk malu dari pada memikirkan sesuatu yang masih belum jelas seperti itu. Beberapa saat kemudian Khaya mulai menyingsingkan sarungnya dan perlahan melepaskan sanggul yang masih menempel dir abut gadisnya.
Sejenak rambut itu telah terurai panjang yang tersebar di bangian depan dan belakang. Badannya yang semampai tinggi membuat rambut legam itu tidak menyentuh tanah. Perlahan Khaya mulai mengambil beberapa cidukan air dan mulai menyiramkannya dari ujung rambut hingga menyebar keseluruh badannya. Tanpa berkata gadis itu hanya terdiam kaku dan sesekali mendesah ketika sebagian aliran air mengalir di bagian dadanya. Sambil memegangi gayun yang terpuat dari tempurung kelapa itu Khaya mulai membasahi tenggorokannya yang mulai mongering.
Jarum jam pun berlalu dengan perlahan, di dalam rumah yang sebagian masih belum diplester itu hanya terdengan percikan air yang jatuh dari cela-cela pakiaan gadisnya Khaya yang terdegar berbelit-belit.
Perlahan Khaya berusaha melepaskan kancing yang masih melekat di baju gadisnya itu satu persatu. Tak jarang gadis itu mendesah ketika tanpa disengaja tangan Khaya menyentuh bagian kulitnya. Lambat laun pakaian yang dikenakan gadis itu sudah tertanggal satu persatu. Kini lekuk badan yang tidak begitu gemuk dan kulit kuning langsat itu sudah tidak beraling-aling lagi. Pemandangan itu membuat tengorolan Khaya semakin kering, namun apalah artnya semua itu kalau sebelum selesai mandi tidak boleh melakukan hal itu. Paling tidak itulah pesan dari ibundanya sebelum akad nikah berlangsung.
“Kak, aku seperti menambah dosa saja! Sungguh diri ini telah menjadi pewaris tradisi yang telah salah.” kata gadis itu sambil memejamkan matanya yang mulai dibasahi air. Kata-kata itu sempat membuat Khaya tertegun dalam beberapa detik, namun dia tetap memegang kepala gadisnya yang sudah mulai basah. Pelan-pelan air itu mulai disiramkannya dan beberapa bunga yang sengaja dicampur terlihat menyangkut disela-sela rambutnya yang mulai merekat.
“Aku takut agama mengecapku sebagai perempuan yang telah menodai nilai-nilainya yang suci. Bukankah demikian Kak Khaya?” Mendengar itu Khaya hanya tertawa kecil. Sementara, bibir gadisnya yang tanpa bincu itu mulai kaku.
“Tidak seekstrim itu agama memperlakukan seseorang, karena bagaimanapun juga agama adalah pelindung yang ajarannya merupakan danau pensucian, seperti butiran airnya yang telah membersihkan tubuh adik ini. Sikapnya adalah kelembutan lebih lembut dari sutra bahkan selaput dara yang tidak akan pernah hilang di malam pertama atau di malam-malam dalam rentang waktu yang lama. Sifatnya merupakan kejujuran yang tetap benar sampai akhir masa dan dari semua realita, sama bahkan lebih dari sekedar pengakuanku ketika harus merasakan kelembutan dadamu yang bercampur busa-busa sampo. Karena agama adalah gambaran keadilan seperti tatapanmu melihat kesetiaan di mataku dan pandanganku di saat mensyukuri keindahan tuhan yang ditampakkan lewat tubuhmu maka keberadaan agama itu bugil seperti adik sekarang ini.”
***
Percikan air yang jatuh makin lama semakin pelan bahkan tetesannya pun sudah tidak terdengar lagi. Hanya butiran-butiran air kecil yang masih melekat dikulitnya, dan kini urat-urat kecil itu semakin tanpak seperti aliran sungai di tengah-tengah gurun salju.
Khaya yang mulai kelihatan lelah berusaha mengeringkan butiran-butiran air itu dengan handuk kecil. Beberapa kali gadis itu mendesah ketika handuk kecil itu menjadi slancar yang melintasi dadanya. Namun Khaya tetap Khaya, dia seperti buta dan tuli di dalam kerinduan seseorang pecinta yang hampir gila karenannya.
Mendadak suasana saat itu menjadi hening. Sinar matahari yang awalnya masih menari di pipinya kini telah di gulung oleh celah dedaunan yang berebut menidurinya. Gadis itupun sadar kalau Khaya hanyalah sosok laki-laki yang menjadi khayalannya ketika jiwanya rindu akan cinta. Namun gadis itu masih berharap bahwa Sang Khya masih sudi menemuinya lewat mimpi dan lamunannya karena baginya suaminya itu masih sah dan belum menceraikannya.
Sambil menunggu adzan magrib aku menyempatkan menghampirinya yang sedang duduk dengan memejamkan matanya.
“En.., En..” Panggilku dengan pelan. Namun sebelum gadis itu bangun dari lamunannya, dia telah mendapati bibir licinya terjepit di antara bibirku.
***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: