Bahasa dan Persepsi

Bahasa dan Persepsi
Sebuah Perpaduan Filsafat Bahasa Klasik dan Modern
Moh Badrih

Pada dasarnya kita berpikir dan bertindak berdasarkan sesuatu yang telah dilihat, didengar, dirasa, dicium, dan diraba. Kelima hal inilah yang merupakan titik pangkal eksistensi kita sebagai subjek yang bernama hidup. Kita akan menyimpulkan bahwa Si X itu tampan, dan cantik setelah indra penglihatan kita mengamati wajah S X dan kemudian menginternalisasikannya ke dalam pikiran. Selanjutnya pikiran memberikan ukuran bahwa Si X itu tampan, cantik atau sebaliknya Si X kurang tampan atau kurang cantik.

Demikian juga dengan suara, suara Si X bisa termasuk ke dalam kategori bagus dan merdu setelah indra pendengar mentransfer bunyi itu ke dalam pikiran dan terjadilah sebuah keputuasan mengenai suara Si X.

Kelima indra tersebut tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Indra penglihatan tidak bisa dipisahkan dengan indra pendengar, indra pencium dengan indra perasa, dan begitu juga dengan indra peraba dengan indra yang lain. Hal ini karena kelima indra itu merupakan sarana pertimbangan ketika pikiran akan memutuskan mengenai suatu hal. Di samping itu masing-masing indra tersebut akan menentukan tingkat kebenaran mengenai sesuatu. Misalnya, kasus orang buta dan orang tuli pada saat menonton televisi, orang yang buta mengira TV itu benda yang hanya ada bunyinya dan tidak ada gambarnya, sedangkan orang tuli berpikir sebaliknya.

Kasus tersebut bisa juga dikaitkan dengan dua orang yang pada saat yang sama diminta untuk menentukan gadis tercantik di antara lima gadis yang sama-sama cantik, secara tidak langsung meskipun orang ini sama-sama normal akan tetapi pilihan mereka kemungkinan cenderung berbeda. Bisa saja perbedaan tersebut, karena pengaruh pikiran, perasaan, atau sudut pandang yang lain.

Intinya pikiran akan selalu menjadi hakim atas segala keputusan yang akan diperbuat kita. Dalam hal ini, pikiran akan mempertimbangkan mengenai gadis tersebut tentunya setelah indra penglihatan, indra perasa, dan indra peraba telah melakukan pengamatan. Dengan demikian, setelah pikiran mempertimbangkan dari masing-masing aspek tersebut, pikiran akan memutuskan bahwa si X-lah yang tercantik di antara lima gadis yang sama-sama cantik.

Kasus yang sama

Apabila ada seseorang misalnya Si A ditanya mengenai lima gadis yang cantik dan disuruh mencari gadis yang tercantik kemungkinan besar pilihan tersebut tidak sama dengan Si B meskipun kedua-duanya sama-sama menggunakan pikiran dan mempunyai indra normal dan lengkap. Untuk hal ini penulis mempunyai alasan yang berbeda. Si A dan Si B yang mempunyai indra dan pikiran yang sama-sama normal namun tingkat sensitifitas dan cara pandang mereka berdua tentu berbeda.

Ketika kedua orang tersebut dimintai penjelasan tentang gadis yang mereka pilih, tentunya kedua-duanya akan menguraikan dengan penjelasan yang logis dan cukup bijak. Misalnya saja, mereka berdua dimintai alasan mulai dari raut wajah si gadis pilihannya tersebut, Si A akan mengambil dari sekian objek yang ada pada wajah si gadis dengan berusaha menillai dari segi kelebihan dan meminimkan unsur-unsur kekurangan yang ada pada si gadis pilihnya tersebut, dabegitu juga dengan Si B, dia akan akan mengambil objek yang ada pada gadisnya tersebut dengan berusaha menilai dari segi kelebihan dan dan meminimkan unsur-unsur kekurangan yang dimiliki gadisnya. Mengenai teknik yang mereka gunakan tentunya berbeda karena mereka juga menggunakan sudut pandang yang berbeda tentagn si gadis tersebut.
Bisa saja Si B ini mulai menilai dari mata si gadis dengan segala kelebihannya, dan menilai hidung dengan segala kelebihanya sampai pada bagian terkecil yang tersembunyi pada wajah si gadis tersebut, dan bigitu pula dengan Si A, yang mempunyai teknik berbeda di dalam menilai gadis yang telah dipihnya tersebut.

Selanjutnya, apabila ada seorang moderator yang meminta penjelasan Si A tentang gadis yang telah dipilih Si B, tentunya Si A ini akan menilai dari segi kekurangannya gadis dan meminimalkan unsur kelebihan terhadap gadis tercantik pilihan Si B, dan begitu juga sebaliknya apabila Si B dimintai penjelasan tentang gadis pilihannya Si A, maka tidak tertutup kemungkinan Si B ini akan bertindak sebagaimana telah dilakukan Si A yakni dengan mengurai unsur kekurangannya dan miminimalkan unsur kelebihan gadis pilihan Si B.

Dengan demikian kedua orang tersebut telah memasukkan unsur subjektifitas di dalam menilai gadis tercantik, dan inilah yang dimaksud penulis dengan cara pandang yang berbeda di dalam menilai suatu objek. Kemudian bagaimana dengan sensitifitas itu sendiri. Dalam hal ini sensitifitas itu berkenaan dengan kecepatan dan kepekaan dalam menerima rangsangan yang kebenarannya diterima oleh umum. Kecepatan dan kepekaan Si A yang telah menjatuhkan pilihan terhadap gadis yang telah dipilihnya akan berbeda dengan kecepatan dan kepekaan Si B di dalam memilih gadisnya. Bisa saja Si A lebih cepat daripada Si B atau justru sebaliknya. Pertanyaan selanjutnya, apakah gadis yang dipilih Si A sudah sesuai dengan penilaian masyakarakat pada umumnya atau justru sebaliknya. Kalau ia, berarti penilaian si A terhadap gadis pilihannya ini telah sesuai dengan anggapan masyarakat pada umumnya. Hal ini tidak cukup sampai di sini, yang perlu dipertanyakan lagi, masyakat mana yang memberikan apresiasi positif itu, dan bagaimana keadaan psikologis masyarakat itu. Hal inilah yang nantinya dan sesuai dengan pernyataan Rusell menganai kebenaran nisbi atau relatif.
****

Kalau ilustrasi di atas dikaitkan dengan keberadaan bahasa, tentunya akan menjadi sesuatu yang sangat menarik tidak hanya bagi penulis melainkan juga bagi pembaca. Salah satu penganut fenomenologi, Merleau Ponty dengan dasar filsafatnya ambiguitas pernah mengatakan bahwa kita muncul meliputi badan roh dan roh badan. Begitu juga dengan kemunculan bahasa, keberadaanya masih menjadi persepsi antara sebelum dan setelah benda. Baginya dunia yang dialami (lebenswelt) sekarang ini tidak hanya di dasarkan pada satu arti saja. Lebih lanjut Ponty mengatakan bahwa pengatahuan kita bersifat fragmenter dan tempat-tempat terang selalu dipisahkan dari tempat-tempat yang gelap1.

Pada awalnya dasar ambiguitas yang dikembangkan Merleau Ponty ini ditujukan untuk mengkritisi pemikiran objektifitas dari realisme dan pemikiran subjektifitas dari idealisme. Bagi realisme, realitas semuanya ini dapat diketahui secara objektif, ia tidak tergantung kepada kita dan merupakan keseluruan yang tertutup. Sedangkan menurut pandangan idealisme tidak ada realitas yang terlepas dari pemikiran, realitas itu sama dengan realitas yang dipikirkan.

Jika dikaitkan dengan pandangan Merleu Ponty terhadap paham realisme dan idealisme maka yang perlu disikapi lebih awal yakni bagaimana membuat paham yang masih berupa fragmen tersebut menjadi suatu pemikiran yang utuh tentang realitas. Suatu benda yang hadir sebagai realitas telah mempunyai satu kesatuan yang bersifat kompleks. Misalnya penulis mengatakan ”gelas itu berisi air”, dalam waktu yang sama wujud ”gelas dan air” tersebut menampakkan keberaannya yang nyata dengan segala kondisi yang mempengaruhinya; baik itu berupa jarak, cahaya, letak, ddl. Dengan demikian wujud itu ada berdasarkan keberadannya sendiri tidak berdasarkan analogi kita.

Namun sebaliknya, pandangan idealisme justru lebih percaya bahwa kalimat ”gelas itu berisi air” tidak lain merupakan proses mental kita sebagai pemikir. Dengan wacana lain, Idealisme lebih mengutamakan resional dari sekedar penampakan realitas saja, karena bagi paham ini realitas tanpa keberadaan kita hanyalah ada sekedarnya tanpa mempunyai makna.. Oleh karena itu, merupakan hal yang mustahil pada saat yang sama realita yang ada di dalam pikiran tersebut terbalik menjadi ”air itu berisi gelas”. Hal itu karena realitas dari ”gelas itu berisi air” telah tergambar dalam pemikiran sesuai dengan realita yang ada.

Sebenarnya kedua-duanya tersebut merupakan satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Realita membutuhkan pemikiran dan begitu juga dengan pemikiran membutuhkan realita. Ralita tanpa adanya pemikiran tidak akan terungkap, sedangkan pemikiran tidak akan menjadi sesuatu yang benar apabila strukttur yang ada di dalamnya tidak sesuai dengan realita yang ada. Dengan demikian realita yang menampakkan diri dan tertangkap serta akan menjadi sesuatu yang bersifat terungkap manakala antara realita dan pikiran itu ada kelinieran, dan hal ini disebut persepsi.

Istilah ”persepsi” atau ”pengamatan” yang dipakai Merleau Ponty tidak hanya didasarkan pada satu pengertian, yakni pengamatan dengan mata telanjang; melainkan juga terhadap suatu benda (objek) yang mempunyai hubungan dengan subjek (kita) dengan dunia. Secara tidak langsung Ponty mengisyaratkan bahwa realita (kelihatan secara fisik) tidak berarti apa-apa tanpa disertai pengatahuan yang lain tentang realita tersebut.

Penjelasan tersebut bisa diilustrasikan dengan kalimat ”gelas itu berisi kopi”. Realitas menunjukkan bahwa gelas yang bentuknya bulat dan berwarna bening berisi cairan kopi yang berwarna hitam sehingga warna gelas pun seaakan-akan berubah warnanya menjadi hitam. Dari kasus ini dapat diurai lebih lanjut bahwa tanpa adanya pengatahuan yang lebih mengenai realita (objek berupa gelas dan kopi) maka realita tersebut hanyalah menjadi realita yang kebenarannya diterima oleh umum tanpa bisa diketahui hakikat dan hukum kausalitasnya yakni, mengapa kopi berwarna hitam dan kenapa warna gelas tersebut didominasi oleh warna kopi.

Selama ini kita telah dipengaruhi oleh konvensi yang masih abstrak yang mungkin benar dan mungkin juga salah tentang bahasa. Sebagian kita ada yang hanya menerima kebenaran itu beritu saja tanpa mau berfikir kenapa bentuk bahasa bisa sedemikian rupa, yakni kenapa Si A itu bernama Ali atau kenapa kalimat tersebut berbunyi ”gelas itu berisi kopi” dan bukannya air itu berisi gelas, atau harus mengikuti struktur logika bahasa.
Hal lain yang menjadi pijakan dari analisis persepsi ialah tentang pemaknaan. Konsep ini berhubungan erat dengan ”esensi” dan ”reduksi eidetis”. Adapun yang dimaksud dengan reduksi eiditis dalam hal ini adalah satu kesadaran yang mengarah kepada suatu aidos, sedangkan esensi merupakan suatu intuisi tentang hakikat.
Pada fase tertentu atau pada saat kesadaran hadir untuk menyadari realita yang ada di sekeliling kita dengan sendirinya pikiran berusaha mengungkapkan esensi dari realita tersebut. ”gelas itu berisi kopi” pada intinya merupakan kalimat untuk mengungkapkan realita dari gelas yang di dalamnya berisi kopi. Namun pada saat yang sama realita tersebut bisa digantikan dengan ”kopi itu berada di dalam gelas” yang juga mengungkapkan realitas yang sama.
Sekilas kedua kalimat tersebut mempunyai kemiripan informasi akan tetapi esensi atau hakikat yang menyertai masing-masing kalimat berbeda. Perbedaannya terletak pada struktur gramatikal pada masing-masing kalimat tersebut. Pertama, ”gelas itu berisi kopi” merupakan struktur yang terdiri dari (subjek, predikat, dan objek) yang esensinya menerangkan wujud gelas dengan kondisi yang menyertainya, sedangkan ”kopi itu berada di dalam gelas” strukturnya berubah menjadi (subjek, predikat, dan keterangan) yang esensinya menerangkan wujud kopi besarta kondisi yang menyertainya.

Kaitannya dengan sifat arbitrer terhadap realita, pandangan ini memberi kebebasan mengenai realita yang akan dipersepsikan. Selebihnya, mengenai susunan kalimatnya tetap bersandar pada keberadaan realita. Kita diperbolehkan menyatakan ”kopi itu berada di dalam gelas” karena memang keberadaan kopi tersebut di dalam gelas, dan kita boleh menyatakan ”gelas itu berisi kopi” karena keberadaannya memang demikian, dan yang perlu kita pahami yaitu mengenai susunanya yang tidak boleh bertentangan dengan hukum logika. Apakah kopi yang akan kita jadikan subjek ataukah gelas yang akan kita jadikan subjek itu tergantung kita sebagai pemersepsi.
Kaitannya dengan paham ini penulis mempunyai suatu pandangan terhadap persepsi yakni mengenai ’kebenaran sejalan’. Maksud dalam hal ini bahwa masing-masing kebenaran terhadap satu realita ada titik temunya.

Kamar itu berisi meja makan

Meja makan itu berisi piring

Piring itu berisi ikan

Ikan itu berisi daging Meja makan itu berada di dalam kamar

Piring itu berada di atas meja makan

Ikan itu berada di atas piring

Daging itu berada di dalam ikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: