Peningkatan Keterampilan Bercerita

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERCERITA
MELALUI PENDEKATAN KOMUNIKATIF
SISWA KELAS VII-B DI MTs NEGERI DONOMULYO

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh: M.Arif Zainal Abidin
NPM: 2060711052

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah
Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak menuju arus globalisasi, bahasa Indonesia memiliki peranan yang penting dan strategis dalam proses komunikasi di tengah-tengah pergaulan dan interaksi sosial. Melalui penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, seseorang akan mampu ber-komunikasi, baik secara lisan maupun tertulis, dengan pihak lain sesuai konteks dan situasinya.
Sebagai institusi pendidikan formal, sekolah memiliki fungsi dan peran strategis dalam melahirkan generasi-generasi masa depan yang terampil ber-bahasa Indonesia secara baik dan benar. Melalui pembelajaran bahasa Indonesia, para peserta didik diajak untuk berlatih dan belajar berbahasa melalui aspek ke-terampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan memiliki keterampilan berbahasa Indonesia secara baik dan benar, kelak mereka diharapkan menjadi generasi yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya. Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya adalah keterampilan berbicara. Dengan menguasai keterampilan berbicara, peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat dia sedang berbicara. Keterampilan berbicara juga akan mampu membentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang komunikatif, jelas, runtut, dan mudah dipahami. Selain itu, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang kritis karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis. Bahkan, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karena sudah terbiasa dan terlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tutur pada saat dia sedang berbicara.
Namun, harus diakui secara jujur, keterampilan berbicara dikalangan siswa SMP/MTs, khususnya keterampilan bercerita, belum seperti yang diharapkan. Kondisi ini tidak lepas dari proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah yang dinilai telah gagal dalam membantu siswa terampil berpikir dan berbahasa sekaligus.Yang lebih memprihatinkan, ada pihak yang sangat ekstrim berani mengatakan bahwa tidak ada mata pelajaran Bahasa Indonesia pun siswa dapat berbahasa Indonesia seperti saat ini, asalkan mereka diajari berbicara, membaca, dan menulis oleh guru (Depdiknas 2004:9).
Sementara itu, hasil observasi empirik di lapangan juga menunjukkan
fenomena yang hampir sama. Keterampilan bercerita siswa SMP/MTs berada pada tingkat yang rendah, diksi (pilihan kata)-nya payah, kalimatnya tidak efektif, struktur tuturannya rancu, alur tuturannya pun tidak runtut dan kohesif.
Demikian juga keterampilan berbicara siswa kelas VII-B MTs Negeri Donomulyo Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil observasi, hanya 10% (4siswa) dari 41 siswa yang dinilai sudah terampil bercerita dalam situasiformal di depan kelas. Indikator yang digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam bercerita, di antaranya kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata.
Paling tidak, ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat keterampilan siswa dalam bercerita, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Yang termasuk faktor eksternal, di antaranya pengaruh penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam proses komunikasi sehari-hari, banyak keluarga yang menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai bahasa percakapan di lingkungan keluarga. Demikian juga halnya dengan penggunaan bahasa Indonesia di tengah-tengah masyarakat. Rata-rata bahasa ibulah yang digunakan sebagai sarana komunikasi. Kalau ada tokoh masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia, pada umumnya belum memperhatikan kaidah-kaidah berbahasa secara baik dan benar. Akibatnya, siswa tidak terbiasa untuk berbahasa Indonesia sesuai dengan konteks dan situasi tutur.
Dari faktor internal, pendekatan pembelajaran, metode, media, atau sumber pembelajaran yang digunakan oleh guru memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap tingkat keterampilan bercerita bagi siswa SMP/MTs. Pada umumnya, guru bahasa Indonesia cenderung menggunakan pendekatan yang konvensional dan miskin inovasi sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan bercerita berlangsung monoton dan membosankan. Para peserta tidak diajak untuk belajar berbahasa, tetapi cenderung diajak belajar tentang bahasa. Artinya, apa yang disajikan oleh guru di kelas bukan bagaimana siswa bercerita sesuai konteks dan situasi tutur, melainkan diajak untuk mempelajari teori tentang bercerita. Akibatnya, keterampilan bercerita hanya sekadar melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional dan kognitif belaka, belum manunggal secara emosional dan afektif. Ini artinya, rendahnya keterampilan bercerita bisa menjadi hambatan serius bagi siswa untuk menjadi siswa yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya.
Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia telah menyimpang jauh dari misi sebenarnya. Guru lebih banyak berbicara tentang bahasa (talk about the language) daripada melatih menggunakan bahasa (using language). Dengan kata lain, yang ditekankan adalah penguasaan tentang bahasa (form-focus). Guru bahasa Indonesia lebih banyak berkutat dengan pengajaran tata bahasa, dibandingkan mengajarkan kemampuan berbahasa Indonesia secara nyata (Nurhadi, 2000).
Jika kondisi pembelajaran semacam itu dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin keterampilan bercerita di kalangan siswa SMP/MTs akan terus berada pada aras yang rendah. Para siswa akan terus-menerus mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara lancar, memilih kata (diksi) yang tepat, menyusun struktur kalimat yang efektif, membangun pola penalaran yang masuk akal, dan menjalin kontak mata dengan pihak lain secara komunikatif dan interaktif pada saat bercerita.
Dalam konteks demikian, diperlukan pendekatan pembelajaran keterampilan bercerita yang inovatif dan kreatif, sehingga proses pembelajaran bias berlangsung aktif, efektif, dan menyenangkan. Siswa tidak hanya diajak untuk belajar tentang bahasa secara rasional dan kognitif, tetapi juga diajak untuk belajar dan berlatih dalam konteks dan situasi tutur yang sesungguhnya dalam suasana yang dialogis, interaktif, menarik, dan menyenangkan. Dengan cara demikian, siswa tidak akan terpasung dalam suasana pembelajaran yang kaku, monoton, dan membosankan. Pembelajaran keterampilan bercerita pun menjadi sajian materi yang selalu dirindukan dan dinantikan oleh siswa.
Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengatasi faktor internal yang diduga menjadi penyebab rendahnya tingkat kemampuan siswa kelas VII-B MTs Negeri Donomulyo kabupaten Malang, dalam bercerita, yaitu kurangnya inovasi dan kreativitas guru dalam menggunakan pendekatan pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan bercerita berlangsung monoton dan membosankan. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan adalah pendekatan komunikatif.
Melalui pendekatan komunikatif., siswa diajak untuk bercerita dalam konteks dan situasi tutur yang nyata dengan menerapkan prinsip pemakaian bahasa secara komprehensif. Dalam pendekatan komunikatif., guru berusaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan berbahasa di dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks. Guru juga memberikan pengalaman kepada siswa melalui pembelajaran terpadu dengan menggunakan proses yang saling berkaitan dalam situasi dan konteks komunikasi alamiah senyatanya. Ada beberapa prinsip pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa Indonesia, yaitu (1) fungsi utama bahasa, (2) tujuan utama pengajaran bahasa Indonesia, (3) menjawab kebutuhan-kebutuhan siswa (4) memberi kesempatan pada siswa untuk mengambil bagian dalam peristiwa komunikatif, (5) dalam proses belajar mengajar mengoptimalkan pemakaian bahasa Indonesia dalam peristiwa komunikatif, (6) memberikan kepada siswa berupa informasi, praktek, dan pengalaman-pengalaman berbahasa yang dihubungkan dengan kebutuhan komunikatif, (7) siswa di dalam kelas hendaknya diarahkan pada penggunaan bahasa bukan pengetahuan bahasa semata, (8) untuk menyampaikan informasi, (9) buku teks/bahan pengajaran yang paling baik adalah yang memberikan bahan latihan komunikatif yang bermanfaat,(Suyono,1990).
Melalui prinsip-prinsip pemakaian bahasa semacam itu, pendekatan komunikatif. dalam pembelajaran keterampilan bercerita diharapkan mampu membawa siswa ke dalam situasi dan konteks berbahasa yang sesungguhnya sehingga keterampilan berbicara mampu melekat pada diri siswa sebagai sesuatu
yang rasional, kognitif, emosional, dan afektif.
Melalui penggunaan pendekatan komunikatif. dalam pembelajaran keterampilan bercerita, para siswa SMP/MTs akan mampu menumbuh- kembangkan potensi intelektual, sosial, dan emosional yang ada dalam dirinya, sehingga kelak mereka mampu berkomunikasi dan berinteraksi sosial secara matang, arif, dan dewasa. Selain itu, mereka juga akan terlatih untuk mengemukakan gagasan dan perasaan secara cerdas dan kreatif, serta mampu menemukan dan menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Yang tidak kalah penting, para siswa juga akan mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, mampu menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, serta mampu memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. Inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengadakan penelitian guna mengetahui bagaimana pendekatan komunikatif bisa meningkatkan keterampilan bercerita. Untuk itu penulis akan mengungkapnya dalam proposal penelitian kualitatif ini dengan judul “Peningkatan Keterampilan Bercerita Melalui Pendekatan Kominikatif Siswa Kelas VII-B Di MTs Negeri Donomulyo”.

1.2 Masalah pokok
Berdasarkan latar belakang di atas sebagai acuan dalam penulisan penelitian ini, penulis mengkaji beberapa permasalahan yang berkaitan dengan penerapan pendekatan komunikatif yaitu:
1.2.1 Masalah umum
Bagaimanakah peningkatan keterampilan bercerita melalui pendekatan kominikatif siswa kelas VII-B di MTs Negeri Donomulyo?
1.2.2 Masalah khusus
a. Bagaimanakah peningkatan keterampilan bercerita melalui pengucapan selamat siswa kelas VII-B di MTs Negeri Donomulyo?
b. Bagaimanakah peningkatan keterampilan bercerita melalui pemberian pujian siswa kelas VII-B di MTs Negeri Donomulyo?
c. Bagaimanakah peningkatan keterampilan bercerita melalui pemberian komentar siswa kelas VII-B di MTs Negeri Donomulyo?
1.3 Tujuan Penelitian
Setiap penelitian tentunya mempunyai tujuan untuk mengungkap fakta/ peristiwa yang terjadi di lapangan/ obyek yang diteliti. Dalam penelitian ini ada dua tujuan yang diharapkan yaitu: (1) tujuan umum, (2) tujuan khusus.
1.3.1 Tujuan umum
Untuk memperoleh diskripsi dan panjelasan tentang peningkatan keterampilan bercerita melalui pendekatan kominikatif siswa kelas VII-B di MTs Negeri Donomulyo.
1.3.2 Tujuan khusus
a. Untuk memperoleh diskripsi dan panjelasan tentang peningkatan keterampilan bercerita melalui pengucapan selamat siswa kelas VII-B di MTs Negeri Donomulyo.
b. Untuk memperoleh diskripsi dan panjelasan tentang peningkatan keterampilan bercerita melalui pemberian pujian siswa kelas VII-B di MTs Negeri Donomulyo.
c. Untuk memperoleh diskripsi dan panjelasan tentang peningkatan keterampilan bercerita melalui pemberian komentar siswa kelas VII-B di MTs Negeri Donomulyo.
1.4 Manfaat penelitian
Suatu hasil tentu di harapkan memiliki manfaat bagi penulis, kepala sekolah, guru bahasa Indonesia, siswa, dan pembaca pada umumnya. Manfaat penelitian ini terdiri dari dua, yaitu: (1) manfaat teoritis, (2) manfaat prktis.
1.4.1 Manfaat teoritis.
Secara teoristis, penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam pembelajaran bercerita pada siswa SMP/ MTs, serta dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengembangkan materi pembelajaran bahasa Indonesia pada jenjang pendidikan SMP/ MTs khususnya kelas VII.
1.4.2 Manfaat praktis
a. Bagi guru bahasa Indonesia
Dapat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan pada pendekatan komunikatif dalam keterampilan bercerita, khususnya bagi siswa SMP/MTs.
Para guru bahasa Indonesia SMP/MTs diharapkan menggunakan pendekatan komunikatif dalam menyajikan aspek keterampilan berbicara, bahkan guru bahasa Indonesia di tingkat satuan pendidikan yang lebih rendah, seperti SD/MI, atau yang lebih tinggi, seperti SMA/SMK/MA, diharapkan juga menggunakan hasil penelitian ini dalam upaya melakukan inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia.
b. Bagi siswa
Mengalami peningkatan yang signifikan dalam berkomunikasi pada pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pada keterampilan bercerita.
c. Bagi kepala sekolah
Dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
d. Bagi pembaca
Khususnya bagi peneliti, bisa dijadikan sebagai acuan dalam penelitian berikutnya.

1.5 Definisi operasional
Pendekatan komunikatif adalah cara pandang dalam pengajaran bahasa Indonesia yang menekankan pada fungsi bahasa sebagai alat berkomunikasi, cara pandang tersebut berupa asumsi/prinsip baik yang berkaitan dengan hakikat bahasa, belajar bahasa maupun mengajarkan bahasa (Suyono, 1990).
Memuji atau memberi pujian berarti menyatakan atau melahirkan keheranan dan penghargaan kepada sesuatu yang dianggap baik, indah, gagah berani, dan sebagainya (Poerwadarminta, 1976: 772).
Selamat berarti terpelihar dari bencana (lalu berarti: terhindar dari bahaya, aman sentosa, sejahtera, tak kurang suatu apa, sehat, tidak mendapat gangguan, kerusakan dan sebagainya, beruntung, tercapai maksudnya, tidak gagal, (Poerwadarminta, 1976: 892).
Mengucapkan selamat berarti menyatakan turut bergembira atas keberhasilan yang dicapai oleh seseorang.
Mengomentari berarti menafsirkan, mengulas, menambah keterangan, (Poerwadarminta, 1976: 517).
Tujuan utama pengajaran bahasa Indonesia adalah penguasaan kompetensi/ performansi komunikatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: