Carok dan Kesenian Madura

CAROK SEBAGAI BENTUK KESENIAN MASYARAKAT PANDALUNGAN
Moh Badrih

Selama ini carok dipahami sebagai perkelahian dengan memakai celurit yang umunya dilakukan oleh sebagian besar masyarakat ‘Madura’. Namun kalau dilihat dari etimologi, definisi tersebut sangat bertolak belakang dengan konsep yang sebenarnya. Secara kebahasaan carok diambil dari kirata basa caca tacorok (berbicara asal) yang bisa mengakibatkan timbulnya emosi bagi yang mendengar.

Awalnya, kasus ini terjadi pada sebagian besar kaum wanita yang merasa tidak suka dengan kehadiran teman sebayanya. Kehadiran teman sebayanya yang dinilai tidak bersahabat dan dicurigai sering menjadi bahan ejekan. Merasa diperlakukan diskriminasi di komunitas tersebut, wanita yang bersangkutan membalasnya dengan ejekan, yang pada akhirnya berujung pertengkaran.

Fenomena serupa juga terjadi pada kaum laki-laki. Namun dalam hal ini, kaum laki-laki tidak mau disebut seperti kaum wanita yang hanya bertengkar dengan mulut. Kaum laki-laki membuat semboyan sendiri bahwa kaum wanita mempunyai mulut dua sehingga suka bertengkar dengan kata-kata sedangkan kaum laki-laki mempunyai senjata sehigga sangat naïf bahkan pecundang jika tidak bertengkar dengan senjata.

Di satu sisi carok merupakan pembelaan hak dan menjaga martabat. Dua hal itulah yang dipertahan kebanyak orang Madura. Di dalam mempertahankan kedua hal tersebut orang Madura sering bersemboyan ketimbang putih mata lebih baik putih tulang. Putih mata berarti harus menanggung malu pada orang banyak sedangkan putih tulang merupakan ujung dari kehidupan (mati).

Orang Madura berkeyakinan bahwa hak dan martabat itu harus dijunjung tinggi. sehingga orang Madura menjadikan nyawa sebagai taruhannya. Dengan demikian istilah carok sering digunakan ketika terjadi pertikaian antar kaum laki-laki dengan senjata yang berupa celurit.

Familiernya istilah carok sekitar tahun 1973-an atau pada saat terjadi transmigrasi orang Madura ke daerah lain. Ditempat yang baru, merekapun sering membuat onar dengan senjata celurit dan aksi itu mereka namakan carok.

Bagi jago pesilat carok merupakan seni mengayukan celurit. Seni ini mengutamakan kelincahan dan kecepatan menarikan celurit ke atas, samping, dan bawah, bahkan perputar mengililingi leher. Dalam ghulghul (seni tradisional Madura) adegan ini diselingi dengan bunyi-bunyi gamelan. Namun lambat laun penggunaan istilah tersebut telah menjadi negatif seiring dengan maraknya media yang menginformasikan berita-berita pembunuhan di belahan pulau Madura dengan kasus carok.

Konon di wilayah Madura pedalaman tradisi carok itu sampai terun-temurun. Keluaga yang mejadi korban carok akan meyimpan baju yang bersangkutan (meninggal) pada tetangganya yang kelak akan diperlihatkan pada anaknya setelah dewasa, bahwa ayahnya mati karena carok atau dibunuh si X. setelah itu anak yang bersangkutan akan menuntut balas dengan mencari dan membunuh pembunuh ayahnya dan begitu juga seterusnya sampai kerungan selanjutnya.

Kebiasaan tersebut terjadi pada masyarakat yang latar pengatahuannya masih sangat rendah dan termasuk ke dalam kategori pandalungan. Bagi masyarakat tersebut orang yang bertikai itu sebagai aktor yang diposisikan layaknya pemeran protagonis dan antagonis.

Pengatahuan tragendi secara detail dijadikan referensi tentang sebuah kekuatan dan teknik, serta teknik carok. Kejadian ini seakan-akan membuat mereka bangga, lebih-lebih ketika andalannya menang dalam sebuah pertarungan. Anehnya, pelakunya menganggap sebuah prestasi yang gemilang dan penjara dianggapnya sebagai kantor megah bukan tempat yang menakutkan. (02/2/2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: