Ketika Free Seks Menjadi ‘Amanah’

KETIKA FREE SEKS MENJADI AMANAH DAN BENTUK BARU HUMANISME
(Kajian Kenakalan Remaja dalam Perspektif Moral)
Moh Badrih

Segala sesuatu yang ada pada diri seseorang merupakan sebuah amanah dari yang menciptakannya. Amanah tersebut selayaknya dijaga dan dipelihara sebagai bentuk penghargaan terhadap yang diberi amanah dan yang memberikannya. Namun apabila amanah tersebut disia-siakan, maka bisa jadi amanah tersebut akan diambil lagi oleh yang punya.
Amanah dalam diri seseorang sangatlah banyak mulai dari yang bisa dilihat sampai yang tidak bisa terlihat. Oleh karena itu memperlakukan semua itu sebagaimana mestinya merupakan bentuk humanism terhadap diri sendiri. Namun tidak semua orang mengerti akan hal ini. Femonena kaum remaja merupakan bukti yang kongkret tentang ketidakpahamannya dalam memperlakukan segala sesuatu yang ada pada dirinya dengan baik.
Banyak kasus yang bisa dijadikan contoh dalam hal ini. Misalnya, 1) memakai obat-obatan terlarang, 2) free sex, dan 3) menganiaya sampai melakukan pembunuhan. Kasus semacam ini sebenarnya merupakan titik tolak humanism yang paling dasar sebelum berbicara humanism dalam bentuk-bentuk yang lain.
Dari sisi yang lain, kaum remaja tidak bisa disalahkan begitu saja. Karena ada beberapa pihak yang sebenarnya ikut bertanggung jawab dalam hal ini, diantaranya adalah orang yang mempunyai ‘kesempatan’ untuk mengingatkannya namun hal itu tidak dilakukan. Dalam hal ini rasa humanisme itu seharusnya muncul setiap saat dan dalam bentuk apapun.
Namun namanya saja remaja, yang tidak lain merupakan sosok yang pandai mencari alasan dan alibi tanpa berfikir panjang. Katika salah satu remaja yang ‘doyan’ seks ditemui oleh penulis mereka mengatakan bahwa free seks itu merupakan amanah dari tuhan yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa sesuatu yang lakukannya itu juga merupakan rasa solidaritas ‘humanisme’ terhadap teman putrinya yang sudah ketagihan seks. Secara tidak langsung alasannya memang masuk akal.
Dari 13 siswa SMA yang menjadi of the record 33% mengatakan bahwa seks yang mereka lakukan sebagai bentuk‘pembelajaran’, 47% melakukannya karena penasaran dan 20% melakukannya karena ketagihan. Kasus ini memberika pelajaran pada pembaca bahwa di mata mereka humanisme terhadap diri sendiri (mempelakukan diri sendiri dengan baik sembagaimana tuntunan nilai-nilai moral) hanya sebatas pada kebutuhan dan rasa senang tanpa memperhatikan aspek-aspek yang lain.
Padahal kalau dikaji secara cermat rasa humanism yang didasari atas perasaan senang akan melahirkan primordialisme. Sedangkan memposisikan diri sebagai sosok pengemban amanah yang bukan pada tempatnya hanya melahirkan “humanism model baru”.
Humanism model baru sebagaimana dikatakan oleh Franz Magnis-Suseno (2003) sebagai bentuk humanisme yang dilepaskan dari agama. Dalam pengertian ini bahwa berpihak pada manusia bukan berarti tidak berpihak pada tuhan dan berpihak pada tuhan bukan berarti berpihak pada manusia. Konsep yang bisa diambil hasil wawancara dengan beberapa remaja bahwa mereka menjadikan konsep ini berbeda yakni pemahaman mareka terhadap sosok solidaritas yang diatasnamakan humanisme. secara tidak langsung mereka berdalih bahwa humanisme dan keberpihakan pada manusia membunya arti untuk tidak berpihakl pada tuhan. Sehingga dengan demikian mereka menjadikan free seks sebagai amanah dan bentuk baru humanisme. (30/1/10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: